BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Sabtu, 16 Oktober 2010

LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT BARAT KONTEMPORER


I. Latar Belakang

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.

Kita akan memfokuskan pembahasan dalam makalah ini mengenai filsafat kontemporer, banyak istilah dalam penyebutan babakan filsafat ini diantaranya filsafat kontemporer, filsafat pasca modern, filsafat posmo dll.

Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,

Tokoh-tokoh besar banyak bermunculan pada  abad XX ini seperti Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein dll. Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat  Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Nietzsche adalah tokoh pertama yang sudah menyatakan ketidak puasannya terhadap dominasi atau pendewaan rasio pada tahun 1880an[1] . jadi menurutnya tokoh the pertama filsafat dekontruksi adalah Nietzsche. Dengan alasan pada tahun 1880an Nietzsche menyatakan bahwa budaya Barat telah berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio, kemudian baru tahun 1990 Capra juga mengatakan demikian.[2]

Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern.[3] Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa

batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.

Perlu diingat Filsafat Barat Kontemporer sangat Heterogen, karena profesionalisme yang semakin besar akibatnya muncul banyak filsuf yang ahli dibidang Matematika, Fisika, Psikologi, Sosiologi ataupun Ekonomi. Sehingga banyak pemikiran lama dihidupkan kembali seperti neothomisme, neokantianisme, neopositivisme dan sebagainya.

Dimasa ini Prancis, Inggris dan Jerman tetap merupakan Negara-negara yang paling depan dalam filsafat, sehingga pada umumnya orang membagi periodisasi Filsafat Barat Kontempoter menjadi dua, pertama filsafat kontinental meliputi Prancis dan Jerman, kedua Filsafat Anglosakson meliputi Inggris.

Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.

 

II. Filsafat Barat  Kontemporer

Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut term : ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan) Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.

Menurut Prof, I.R. PUDJAWIJATNA menerangkan juga ”Filo” artinya cinta dalam arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya . ”Sofia artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.

Orang yang berfilsafat dinamakan filosof  dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang , ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikit filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.[4]Filsafat pada abad Yunani Klasik atau biasa disebut filsafat kuno senantiasa membahas tentang kosmologi yaitu terbentuknya alam semesta dari mana mereka berasal. selanjutnya filsafat abad pertengahan atau biasa disebut dengan skolastik  sangat berbeda dengan pemikiran sebelumnya hal ini disebabkan karena rumpun bangsa yang berfilsafat sangat berbeda, dalam filsafat abad pertengahan ini manusia mencoba mempersatukan secara harmonis apa yang diketahui dari akal dengan apa yang diketahuinya dari wahyu dengan demikianlah timbul sistem pandangan dunia kristen yang rangkap, dimana iman dan ilmu pengetahuan mendapatkan tempatnya masing-masing.[5] semakin lama doktrin kristen makin membelenggu kehidupan manusia di jaman itu sehingga semakin membatasi., selanjutnya muncullah abad modern yang diawali dengan munculnya gerakan Renaissance dimana orang lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia sendiri, Renaissance kemudian disusul oleh pencerahan yang menjadikan manusia merasa dewasa, membebaskan diri ri tradisi gereja sehingga mereka berusaha untuk menegakkan suatu pandangan dunia secara sistematis serta mengembangkannya secara metodis sehingga menjadi sautu bangunan pandangan dunia yang lengkap[6]

Karena terdapat berbagai macam filsafat yang kontruktif maka makin lama timbullah rasa jemu karena orang-orang yang setia kepada pemikiran yang membangun menampakkan gejala pembekuan sehingga terbentuklah aliran yang tiada pemikiran yang baru lagi yang dinamai aliran via antiqua (jalan kuna) selanjutnya dari situ timbul juga aliran baru yang berbeda sekali dengan sistem pemikiran dalam masa kejayaan skolastik dan berbeda juga dengan aliran via antiqua aliran ini dinamakan aliran via moderna (jalan modern) aliran ini menolak pemikiran metafisis yang konstruktip. Dan perhatiannya lebih diarahkan kepada cara manusia mengenal dan kepada segala ”yang ada”, ajaran yang mengenai pengenalan mengarah kepada nominalisme sekalipun perhatian terhadap teologia tidak kurang namun perhatiannya lebih diarahkan kepada hal-hal yang ilmiah secara positif bukan kepada persoalan-persoalan filsafati.[7]  dan tidak dapat disangkal bahwa para pemikir pada zaman modern ini berbeda-beda keadaannya. pemikiran filsafat mereka juga mengarah ke banyak jurusan akan tetapi semuanya itu mewujudkan suatu kesatuan. zaman ini menjadikan orang meraa telah mengetahui segala sesuatu secara menyeluruh dan sistematis.

Selanjutnya dalam perjalanan sejarah filsafat barat menunjukkan bahwa makin lama filsafat itu makin terpecah-pecah menjadi filsafat jerman, filsafat Prancis,  filsafat Inggris, Filsafat Amerika dan filsafat Rusia. mereka mengikuti jalannya sendiri-sendiri masing-masing membentuk kepribadian dengan caranya sendiri sekalipun demikian mereka tetap menampakkan suatu kesatuan. sebab bermacam-macam pemikiran yang dikemukakan paa bangsa itu sebenarnya hanya mewujudkan aspek yang bermacam-macam dari satu keadaban.[8]

Filsafat Kontemporer muncul diawali sikap ingin mendobrak teori Filsafat Modern yang menggunakan keuniversalitasan kebenara tunggal dan bebas nilai. Oleh sebab itu salah satu ciri yang terdapat dalam Filsafat Kontempoter ini mengagungkan nilai-nilai relatifitas dan mini narasi, dan lebih cenderung beragam dalam pemikiran.

Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi

 

III. Aliran-Aliran dalam Filsafat Barat Kontemporer

1. Pragmatisme

Di Amerika Serikat aliran Pragmatisme mendapat tempatnya yang tersendiri didalam pemikiran filsafat, William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan pragmatisme kepada dunia.[9]

Aliran Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.[10]

Aliran ini menganggap benar apa yang akibat-akibatnya bermanfa’at secara praktis. Jadi patokan dari pragmatisme adalah bagaimana dapat bermanfaat dalam kehidupan praktis.  Dan pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Kebenaran mistis pun dapat diterima asalkan bisa bermanfa’at secara praktis misalnya ada penyembuhan alternative yang menggunakan tenaga magis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat secara praktis.

Tokoh-tokohnya : William James, Jhon Dewey, F.C.S Schiller.

 

2. Vitalisme

Akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik di awal abad XX mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang cepat pula, sehingga menjadikan segala pemikiran diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi saja, baik jagat raya, maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri. Serta bekerja menurut hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu.[11]

Aliran Vitalisme memandang bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul dari reaksi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi. Dimana segala sesuatu dapat dianalisa secara matematis.

Tokoh-tokohnya: Henri Bergson

 

3. Fenomenologi

Kata Fenomenologi berasal dari Yunani fenomenon yang artinya sesuatu yang tampak,  terlihat karena bercahaya, dalam bahasa Indonesia disebut”gejala”.[12] Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan segala sesuatu selama hal itu tampak. Pelopor aliran ini adalah Edmund Husserl.

Tokoh-tokohnya: Edmund Husserl, Marx Secheler

 

4. Eksistensialisme

Kata Eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan) jadi eksistensialisme dapat diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu hal yang pasti yaitu bahwa dirinya ada.[13]

Eksistensialisme adalah aliran Filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi, Eksistensi sendiri merupakan cara berada manusia di dunia, dan cara ini berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lainnya. Benda mati atau hewan tidak sadar akan keberadaannya tetapi manusia menyadari keberadaannya, manusia sadar bahwa dirinya sedang bereksistensi oleh sebab itu segala sesuatu berarti selama menyangkut dengan manusia, dengan kata lain manusia memberikan arti pada segalanya, manusia menentukan perbuatannya sendiri, ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.

Dalam teori ini berpandangan bahwa manusia adalah eksistensinya mendahului esensinya (hakikat), dan sebaliknya benda-benda lain esensinya mendahului eksistensinya, sehingga manusia dapat menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri, hidupnya tidak ditentukan lebih dulu, sebaliknya benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.

Tokoh-tokohnya: Jean Paul Sartre, Gabriel Marcel

 

5. Filsafat Analitis

Aliran Filsafat Analitis ini pertama muncul di Inggris dan Amerika serikat sejak tahun 1950, Filsafat analitis sering juga disebut filsafat bahasa, filsafat ini merupakan reaksi dari idealisme, khususnya neohegelianisme di inggris. Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan konsep-konsep.

Tokoh-Tokohnya: Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, John Langsaw Austin.

 

6. Strukturalisme

Strukturalisme muncul diprancis pada tahun 1960an, dan dikenal juga dalam linguistic, psiatri dan sosiologi, strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap, maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut.

Tokoh-tokohnya: Levi Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault

 

7. Postmodernisme

Aliran Post Modernisme ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya, pengertian postmodern bukan sesuatu yang baru dalam filsafat Lyotard menjadi orang pertama yang mengintroduksikan istilah ini ke dalam filsafat. Tokoh-tokohnya: Jean Francois Lyotard.

 

IV. Kesimpulan

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.

Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,

Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern. Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa

batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.

Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.

Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme, rasionalisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Bertens, K. 2001. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Bertens, K. 2001. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwidjono, Harun. 1998. Sari Sejarah Filsafat Barat  1. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.



[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 257.

[2] Ibid, 258.

[3] Ibid,.

[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama (Surabaya:  Bina ilmu, 1979) , 79

[5] Harun Hadiwidjono, Sari Sejarah Filsafat Barat  1. (Yogyakarta : Kanisius, 1998), 10.

[6] Ibid,.

[7]  Ibid, 118.

[8]  Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 7.

[9]  Ibid, 130.

[10] Ibid, 131.

[11] Ibid, 135.

[12] Ibid, 140.

[13] Ibid, 148.

Rabu, 16 Juni 2010

Mutiara Jiwa

Sabtu, 30 Januari 2010

MEMBEDAH TEORI ATEISME


I. Latar Belakang
Jika kita mendengar kata atheis maka kesan pertama yang mungkin muncul di benak orang adalah tidak bertuhan, komunis ataupun tidak bermoral. Sangat mengerikan jika kita bayangkan kejadian G30SPKI yang telah membantai jendral besar Indonesia dan pelakunya di dasari oleh ideology Komunis sangat dekat dengan ateis. Biasanya kalau kita membahas tentang moral pasti dihubung-hubungkan dengan Tuhan atau theis, karena tuhan adalah sumber dari aturan-aturan dan tata cara berlaku baik, kalau percaya dengan tuhan maka harus mentaati aturanNya dan pasti tingkah lakunya selalu baik. Benarkah penyataan itu berlaku sampai sekarang ? kelihatannya pernyataan itu tidak selamanya benar kalau kita mengamati fenomena sekarang ini, banyak orang yang bertuhan tetapi kelakuannya lebih parah dari orang ateis, orang yang sangat mengerti agama malah terjebak kasus kriminalitas, korupsi dan lain sebagainya. Negara yang sangat tinggi tingkat keberagamaannya diimbangi juga semakin tingginya angka kejahatan, pembunuhan, pelanggaran hukum, pencurian, pelanggaran moral dan lain-lain. Jika kita lakukan surfei pasti didapati hasil yang menyatakan bahwa pelaku pelanggaran adalah mayoritas beragama. Lalu bagaimana dengan pernyataan di atas, apakah ateis masih selalu diidentikkan dengan perbuatan amoral, kelihatannya aturan agama semakin dibuat gampang, apakah ada kesalahan dari aturan tuhan ataukah manusianya yang salah.
Selain masalah itu kita juga sering salah menyebut orang ateis, ternyata ateis itu bukan hanya sebutan bagi orang-orang yang tidak percaya adanya tuhan saja, seorang yang ateis juga bukan berarti orang yang tidak punya agama justru sekarang ada agama secara terbuka yang menyatakan dirinya ateis misalnya yahudi ateis atau yahudi humanis dan Kristen ateis dan keduanya sangat menarik banyak orang untuk memeluknya. ateis juga bermacam-macam, agama Buddha Theravada tidak memiliki kepercayaan terhadap tuhan, dan agama tersebut juga disebut sebagai ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis. bahkan umat hindu juga menyebutkan dirinya sebagai ateis, sebelum menggolongkan seseorang menjadi ateis, sebaiknya kita tengok asal usul penggunaan sebutan itu, jaman dahulu pada akhir abad ke-18 di Eropa Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri", utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis. Pada abad ke-20, globalisasi memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)". Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.
Ateisme juga sangat berkaitan erat dengan materialisme, sama-sama tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti hantu, setan malaikat dan hal ghaib. Hidup modern yang serba rasional dan menganut paham materialisme pasti tidak percaya hal yang tidak terlihat terasa oleh indra, maka tidak percaya juga dengan keberadaan tuhan, anehnya justru Negara yang tinggi angka ateismenya justru lebih modern, menurut analisa para ahli itu disebabkan karena doktrin agama dapat menyebabkan orang menjadi tidak ingin berusaha dan selalu pasif karena mengharapkan pertolongan Tuhan, dan ateis berusaha mengubah dengan segala kemampuannya tanpa campurtangan tuhan, karena ia menganggap tuhan sudah tidak ada. Maka dengan ini kita berusaha memecahkan suatu problem yang ada tentang ateis termasuk juga hubungannya dengan matrerialis.

II. Ateisme
Dari segi bahasa ateisme berasal dari bahasa Yunani kuno, kata atheos (ἄθεος, berasal dari awalan ἀ- + θεός "tuhan") berarti "tak bertuhan". Kata ini mulai digunakan untuk penolakan tuhan yang disengajakan dan banyak digunakan pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa". Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan atheos sebagai "ateistik". Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ἀθεότης (atheotēs ), yang berarti "ateisme". Cicero mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam bahasa Latin atheos. Istilah ini sering digunakan pada perdebatan antara umat Kristen awal dengan para pengikut agama Yunani kuno (Helenis), yang mana masing-masing pihak menyebut satu sama lainnya sebagai ateis secara peyoratif. Penulis Perancis abad ke-18, Baron d'Holbach adalah salah seorang pertama yang menyebut ateis untuk ketidak percayaan pada tuhan monoistik
Menurut istilah ateis adalah tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.
Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.
Dalam versi islam awal munculnya ateis adalah perdebatan dengan kaum zindiq dan mu’tazilah.

III. Klasifikasi Ateisme
Smith menciptakan istilah ateisme implisit untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ateisme eksplisit untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.
Para filsuf seperti Antony Flew, Michael Martin, dan William L. Rowe membedakan antara ateisme kuat (positif) dengan ateisme lemah (negatif). Ateisme kuat adalah penegasan bahwa tuhan tidak ada, sedangkan ateisme lemah meliputi seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya. Menurut kategorisasi ini, siapapun yang tidak mempercayai agama atau tuhan dapatlah ateis yang lemah ataupun kuat. Istilah lemah dan kuat ini merupakan istilah baru, namun istilah yang setara seperti ateisme negatif dan positif telah digunakan dalam berbagai literatur-literatur filosofi dan apologetika Katolik (dalam artian yang sedikit berbeda). Menggunakan batasan ateisme ini, kebanyakan agnostik adalah ateis lemah.

IV. Dasar Pemikiran
A. Ateisme Praktis
Dalam ateisme praktis atau pragmatis, juga sering disebut apateisme, individu hidup tanpa tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan paranormal. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak berguna, tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Tuhan hanya tidak masuk dalam kehidupan manusia, Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya dalam komunitas ilmiah adalah naturalisme metodologis, yaitu pengambilan asumsi naturalisme filosofis dalam metode ilmiah yang tidak diucapkan dengan ataupun tanpa secara penuh menerima atau mempercayainya.
Ateisme praktis dapat berupa Ketiadaan efek motivasi religius, dapat diartikan kepercayaan pada tuhan justru tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya.
Pengesampingan masalah tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis. Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan tuhan dan agama dan Ketidaktahuan akan konsep tuhan dan dewa.

B. Ateisme Teoritis
Ateisme teoritis secara eksplisit memberikan argumen menentang keberadaan tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen teistik mengenai keberadaan tuhan, seperti misalnya argumen dari rancangan dan taruhan Pascal. Terdapat berbagai alasan-alasan teoritis untuk menolak keberadaan tuhan, utamanya secara ontologis, gnoseologis, dan epistemologis. Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis.

1. Argumen epistemologis dan ontologis
Ateisme epistemologis berargumen bahwa orang tidak dapat mengetahui Tuhan ataupun menentukan keberadaan Tuhan. Dasar epistemologis ateisme adalah agnostisisme. Pemikiran agnostisisme yaitu tuhan dianggap berada diluar cakupan filsafat, hal adanya tuhan dianggap tidak dapat diketahui secara filosofis. Dalam filosofi imanensi, ketuhanan tidak dapat dipisahkan dari dunia itu sendiri, termasuk pula pikiran seseorang, dan kesadaran tiap-tiap orang terkunci pada subjek. Menurut bentuk agnostisisme ini, keterbatasan pada perspektif ini menghalangi kesimpulan objektif apapun mengenai kepercayaan pada tuhan dan keberadaannya. Agnostisisme rasionalistik Kant dan Pencerahan hanya menerima ilmu yang dideduksi dari rasionalitas manusia. Bentuk ateisme ini memiliki posisi bahwa tuhan tidak dapat dilihat sebagai suatu materi secara prinsipnya, sehingga tidak dapat diketahui apakah ia ada atau tidak. Skeptisisme, yang didasarkan pada pemikiran Hume, menegaskan bahwa kepastian akan segala sesuatunya adalah tidak mungkin, sehingga seseorang tidak akan pernah mengetahui keberadaan tentang Tuhan. Alokasi agnostisisme terhadap ateisme adalah dipertentangkan, ia juga dapat dianggap sebagai pandangan dunia dasar yang independen.
Argumen lainnya yang mendukung ateisme yang dapat diklasifikasikan sebagai epistemologis ataupun ontologis meliputi positivisme logis dan agnostisisme, yang menegaskan ketidakberartian ataupun ketidakpahaman terhadap istilah-istilah dasar seperti "Tuhan" dan pernyataan seperti "Tuhan adalah mahakuasa." Nonkognitivisme teologis memiliki posisi bahwa pernyataan "Tuhan ada" bukanlah suatu dalil, namun adalah omong kosong ataupun secara kognitif tidak berarti.

2. Argumen metafisika
Ateisme metafisik didasarkan pada monisme metafisika, yakni pandangan bahwa realitas adalah homogen dan tidak dapat dibagi. Ateis metafisik absolut termasuk ke dalam beberapa bentuk fisikalisme, sehingga secara eksplisit menolak keberadaan makhluk-makhluk halus. Ateis metafisik relatif menolak secara implisit konsep-konsep ketuhanan tertentu didasarkan pada ketidakkongruenan antara filosofi dasar mereka dengan sifat-sifat yang biasanya ditujukan kepada tuhan, misalnya transendensi, sifat-sifat personal, dan keesaan tuhan. Contoh-contoh ateisme metafisik relatif meliputi panteisme, panenteisme, dan deisme.
Epikouros sering disebut sebagai orang yang pertama menguraikan secara terperinci masalah kejahatan. David Hume dalam bukunya Dialogues concerning Natural Religion (1779) mengutip argumen Epikouros dalam bentuk sederet pertanyaan" Apakah Tuhan berniat mencegah kejahatan, namun tidak dapat? maka apakah ia impoten. Apakah ia dapat, namun tidak berniat? Maka apakah ia berhati dengki. Apakah ia dapat dan berniat? maka darimanakah kejahatan?"

3. Argumen psikologis, sosiologis, dan ekonomi
Para filsuf seperti Ludwig Feuerbach dan Sigmund Freud berargumen bahwa Tuhan dan kepercayaan keagamaan lainnya hanyalah ciptaan manusia, yang diciptakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan psikologis dan emosi manusia. Hal ini juga merupakan pandangan banyak Buddhis.
Pemikiran Karl Marx dan Friedrich Engels juga dipengaruhi oleh karya Feuerbach, mereka berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan dan agama adalah fungsi sosial, yang digunakan oleh penguasa untuk menekan kelas pekerja. Menurut Mikhail Bakunin, "pemikiran akan Tuhan mengimplikasikan turunnya derajat akal manusia dan keadilan, ia merupakan negasi kebebasan manusia yang paling tegas, dan seperlunya akan berakhir pada perbudakan umat manusia, dalam teori dan prakteknya." Ia membalikkan aforisme Voltaire yang terkenal yang berbunyi jika "Tuhan tidak ada, maka adalah perlu untuk menciptakanNya", dengan menulis: "Jika Tuhan benar-benar ada, maka perlu dihapus."

4. Argumen logis dan berdasarkan bukti
Ateisme logis memiliki posisi bahwa berbagai konsep ketuhanan, seperti tuhan personal dalam kekristenan, dianggap secara logis tidak konsisten. Para ateis ini memberikan argumen deduktif yang menentang keberadaan Tuhan, yang menegaskan ketidakcocokan antara sifat-sifat tertentu Tuhan, misalnya kesempurnaan, status pencipta, kekekalan, kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahabelaskasihan, transendensi, kemahaadilan, dan kemahapengampunan Tuhan.
Ateis teodisi percaya bahwa dunia ini tidak dapat dicocokkan dengan sifat-sifat yang terdapat pada Tuhan dan dewa-dewi sebagaimana yang diberikan oleh para teolog. Mereka berargumen bahwa kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kemahabelaskasihan Tuhan tidaklah cocok dengan dunia yang penuh dengan kejahatan dan penderitaan, dan di mana welas kasih tuhan/dewa adalah tidak dapat dilihat oleh banyak orang. Argumen yang sama juga diberikan oleh Siddhartha Gautama, sebagai pendiri Agama Buddha.

5. Argumen antroposentris
Ateisme aksiologis atau konstruktif menolak keberadaan tuhan, dan sebaliknya menerima keberadaan "kemutlakan yang lebih tinggi" seperti kemanusiaan. Ateisme dalam bentuk ini menganggap kemanusiaan sebagai sumber mutlak etika dan nilai-nilai, dan mengijinkan individu untuk menyelesaikan permasalahan moral tanpa bergantung pada Tuhan. Marx, Nietzsche, Freud, dan Sartre semuanya menggunakan argumen ini untuk menyebarkan pesar-pesan kebebasan, Übermensch, dan kebahagiaan tanpa kekangan.
Argumen Blaise Pascal merupakan salah satu kritik yang paling umum terhadap ateisme dia memaparkan bahwa menolak keberadaan Tuhan akan membawa pada relativisme moral, menyebabkan seseorang tidak bermoral ataupun tidak memiliki dasar etika, atau membuat hidup tidak berarti dan menyedihkan.

V. Hubungan Ateis dengan Moral
Kalau kita melihat kenyataan sekarang ini banyak yang memfonis orang ateis pasti identik dengan orang yang tidak bermoral, sebenarnya para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari universalisme moral humanisme, yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, nilai moral universal bisa didapat dimana saja tidak harus diperoleh dalam doktrin dan aturan agama, bahkan didalam mata hati setiap orang pasti mengatakan bahwa yang tidak baik tidak boleh dilakukan .dipungkiri atau tidak itu memang dapat dirasakan. Menurut Newman dalam suara hati kita menyadari bahwa kita berkewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar dan menolak yang tidak baik dan tidak benar. Jadi tidak selamanya moralitas memerlukan seorang pencipta hukum sama halnya hukum itu sendiri.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak ada tidak berarti juga berpikir bahwa manusia bebas melakukan apapun. Ateisme hanyalah suatu keadaan sebatas ”tidak percaya bahwa Tuhan ada”, tidak lebih dari itu. Tidak ada jaminan bahwa seorang ateis akan berbuat semaunya, seperti juga tidak ada jaminan seorang beragama dan percaya pada Tuhan akan berbuat baik.
Seorang ateis banyak juga terbukti menjadi seorang humanis. Tetapi ada juga mereka yang menjadi sadis seperti Josef Stalin yang terbukti membunuh 30 juta jiwa rakyatnya sendiri (walaupun perlu ditekankan bahwa yang kekejaman yang dilakukan Stalin bukan semata karena ketidak percayaannya kepada tuhan namun karena ideologi komunisme yang ia selewengkan), maupun menjadi seperti Voltaire yang memperjuangkan kebebasan rakyat jelata Prancis dari kungkungan penguasa pemerintahan dan penguasa agama yang absolut.
Ateisme sama sekali berbeda dengan Komunisme. Komunisme pada umumnya ateis, tetapi ateis tidak berarti komunis. Komunisme adalah sebuah sistem pemikiran yang dapat dikembangkan menjadi ideologi dan bahkan sistem pemerintahan, sementara ateisme merupakan sistem ke(tidak)percayaan begitu juga Agnostisisme berbeda dengan ateisme. Kata-kata yang dipopulerkan oleh T.H Huxley ini artinya tidak mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak. Sementara ateisme tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Memang hampir mirip tetapi sekali lagi ditegaskan bahwa keduanya tetap berbeda.
Baggini berargumen bahwa perilaku etis yang dilakukan hanya karena mandat Yang Di atas bukanlah perlaku etis yang sebenarnya, melainkan hanyalah kepatuhan buta yang kurang subyektif dan ateisme merupakan dasar etika yang lebih superior, dan mengklaim bahwa dasar moral di luar perintah agama adalah diperlukan untuk mengevaluasi moralitas perintah itu sendiri. Sebagai contoh, dalam agama A terdapat perintah "umat agama A haruslah mencuri" kita pasti mengetahui bahwa mencuri adalah amoral jika suatu agama yang memerintahkannya maka umatnya harus mentaati sehingga perbuatan tersebut menurut pandangan umatnya itu baik, disinilah letak keuntungan ateis dapat lebih melakukan evaluasi tersebut daripada umat beragama yang mematuhi perintah agamanya sendiri.

VI. Kaitan antara Ateisme dengan Materialisme
Materialisme karakteristiknya adalah materi itu absolut, materi tidak terbatas dan segala sesuatu terdiri dari materi, jadi kalau materi dijadikan paham maka segala sesuatu didasari dengan kenyataan terlihat oleh mata dan ada wujudnya. Masalah tuhan, malaikat, jin merupakan hal yang ghaib tidak ada wujudnya dan tidak tampak. Jadi agama yang mempunyai keyakinan terhadap benda-benda tidak kasat mata tidaklah sesuai dengan paham materialisme, orang yang mempercayai paham tersebut tidak percaya adanya agama yang mengimani sesuatu yang nonmaterial jadi dapat dikatakan masuk kedalam ateisme, oleh sebab itu materialisme selalu dihubungkan dengan ateisme. Materialisme dapat dikatakan seperti ateisme karena bentuk dan substansinya sama-sama tidak mengakui adanya tuhan.
Terdapat beberapa dasar ideologi tentang paham materialisme ini, diantaranya yaitu tidak meyakini adanya alam ghaib, menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu, memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam meletakkan hukum, menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.
Negara-negara maju kebanyakan pemikirannya didominasi oleh paham ini, masyarakatnya mayoritas mempunyai pemikiran tidak mempercayai hal yang immaterial karena seperti tuhan, dewa penyelamat, malaikat menurut mereka merupakan sesuatu hayalan yang hanya bisa membuat orang manja dan berharap-harap akan dapat pertolongan yang tidak mungkin, jika orang yang berpaham materialisme akan berusaha untuk merubah dengan segala tabiat kemanusiaannya berdasarkan hal yang rasional dan berwujud. Dan nyatanya kehidupan yang dengan tanda kutip sekular ini banyak berhasil dalam modernisasi dan kemajuan. Jadi tidak selamanya ateis dan materialistis merugikan dalam kenyataan pernyataan itu terbukti banyak benarnya.

VII. Fenomena ateis pada saat ini
Ateis adalah tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan Bertambah maju suatu negara ataupun daerah semakin maju pula pemikiran masyarakatnya sehingga serba rasional dan materialistis, pemikirannya menjurus juga pada sekularistik dan ateisme, kenyataannya semakin maju suatu negara penduduknya yang ateis juga bertambah, dapat diamati bahwa semakin sekular pemikirannya kemungkinan besar mudah masuk ke ateis. dapat kita bayangkan sekarang ini jika semuanya negara maju maka pasti ateis menjadi sangat besar dan bahkan prosentasenya mengimbangi yang jumlah orang beragama. Dan untuk hal itu apakah perlu dibuatkan agama ateis? Tapi jangan salah semua negara belum majupun agama ateis sudah ada misalnya seperti yang sudah saya sebutkan diatas diantaranya yaitu yahudi ateis atau yahudi humanis dan kristen ateis. Dapat diperkirakan juga jika seluruh belahan dunia ini sama-sama berfikiran rasional maka banyak juga agama ateis baru yang akan muncul. Lalu letak tuhan akan dipertanyakan dan buku tuhan telah mati kembali diterbitkan.
Menurut pengalaman sahabat-sahabat yang mengamati ateis di luar negeri kebanyakan orang yang memeluk ateis jika diadakan survei tidak mau menyebutkan dirinya sebagai ateis hal itu dikarenakan adanya diskriminasi dan stigma sosial bahkan penganiayaan, ternyata kedudukan ateis masih dinomorduakan, dengan kata lain ateisme belum diakui oleh dunia. Orang yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai ateis akan dikucilkan oleh masyarakat di sekitarnya, oelh sebab itu mereka tetap menyatakan memeluk salah satu agama resmi walaupun sebenarnya tidak punya keyakinan terhadap tuhan agama manapun, kalau di indonesia istilah akrabnya Agama KTP.
Kalau kita menganalisa bahwa ateis ternyata tidak selamanya murni dari keyakinan pribadi, peran serta lingkungan luar juga dapat mempengaruhi orang itu menjadi ateis atau tidak misalnya orang yang hidup dari latar belakang keluarga yang keras juga lebih cenderung percaya pada tuhan daripada orang yang merasa dirinya tumbuh di lingkungan tanpa aturan yang keras itu lebih cenderung ke arah ateis. Selain itu tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi sehingga timbul pernyataan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan.
Survei November-Desember 2006 yang dilakukan di Amerika Serikat dan lima negara Eropa, dan dipublikasi di Financial Times menunjukkan bahwa orang Amerika (73%) cenderung lebih percaya kepada tuhan/dewa atau makhluk tertinggi dalam bentuk apapun daripada orang Eropa. Di antara orang dewasa Eropa yang disurvei, orang Italia adalah yang paling banyak percaya (62%) dan orang Perancis adalah yang paling rendah (27%). Di Perancis, 32% mengaku dirinya sebagai ateis, dan 32% lainnya mengaku sebagai agnostik. Dari sini dapat dilihat bahwa keberadaan ateisme tidak bisa diabaikan.

VIII. Kesimpulan
Materialisme karakteristiknya adalah materi itu absolut, materi tidak terbatas dan segala sesuatu terdiri dari materi, jadi kalau materi dijadikan paham maka segala sesuatu didasari dengan kenyataan terlihat oleh mata dan ada wujudnya. sebenarnya para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari universalisme moral humanisme, yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, nilai moral universal bisa didapat dimana saja tidak harus diperoleh dalam doktrin dan aturan agama, Masalah tuhan, malaikat, jin merupakan hal yang ghaib tidak ada wujudnya dan tidak tampak. Jadi agama yang mempunyai keyakinan terhadap benda-benda tidak kasat mata tidaklah sesuai dengan paham materialisme, orang yang mempercayai paham tersebut tidak percaya adanya agama yang mengimani sesuatu yang nonmaterial jadi dapat dikatakan masuk kedalam ateisme, oleh sebab itu materialisme selalu dihubungkan dengan ateisme. Materialisme dapat dikatakan seperti ateisme karena bentuk dan substansinya sama-sama tidak mengakui adanya tuhan.
Bertambah maju suatu negara ataupun daerah semakin maju pula pemikiran masyarakatnya sehingga serba rasional dan materialistis, pemikirannya menjurus juga pada sekularistik dan ateisme, kenyataannya semakin maju suatu negara penduduknya yang ateis juga bertambah, dapat diamati bahwa semakin sekular pemikirannya kemungkinan besar mudah masuk ke ateis.
Kalau kita menganalisa bahwa ateis ternyata tidak selamanya murni dari keyakinan pribadi, peran serta lingkungan luar juga dapat mempengaruhi orang itu menjadi ateis atau tidak misalnya orang yang hidup dari latar belakang keluarga yang keras juga lebih cenderung percaya pada tuhan daripada orang yang merasa dirinya tumbuh di lingkungan tanpa aturan yang keras itu lebih cenderung ke arah ateis. Selain itu tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi sehingga timbul pernyataan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan semakin mengertinya orang itu semakin kuat kemungkinannya untuk meremehkan suatu hal khususnya agama.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Jais, Hartono. 2006. Ada Kemurtadan di Iain. Jakarta : Pustaka al Kautsar.
Badawi, Abdurrahman. 2003. Sejarah ateis Islam penyelewengan, penyimpangan, kemapanan Ter. Khoiron Nahdiyyin. Yogyakarta : LKiS.
Leahy, Louis. 1997. Aliran-aliran ateisme tinjauan kritis. Yogyakarta : kanisius.
Leahy, Louis. 1997. Aliran-aliran besar ateisme tinjauan kritis. Jakarta : PT. PBK. Gunung Mulia.
Magnis, Franz. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta : Kanisius.

Jumat, 30 Oktober 2009

pengantar filsafat


BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan),
tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut term : ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan) Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.
Menurut Prof, I.R. PUDJAWIJATNA menerangkan juga ”Filo” artinya cinta dalam arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya . ”Sofia artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.
Syekh Mustafa abdurraziq, setelah meneliti pemakaian kata-kata filsafat dikalangan muslim, maka berkesimpulan bahwa kata-kata hikmah dan hakim dalam bahasa arab dipakai dalam arti ”filsafat dan filosof” dan sebaliknya, mereka mengatakan hukama-ul-islam atau Falasifatul-islam .3 Hikmah adalah perkara tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alat tertentu, yaitu akal dan metode-metode berfikirnya. Allah berfirman : QS Albaqorah (2) :269 : Allah memberikan hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya dan siapa yang diberikan hikmat, Maka ia telah diberi kebaikan yang banyak sekali.
Datangnya hikmah bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari penglihatan dan hati, atau dengan kata-kata lain , dengan mata hati dan pikiran yang tertuju kepada alam yang ada disekeling kita, banyak orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan, karena itu Allah mengajak kita untuk melihat dan berfikir: QS Adz Dzariyat (51) 20 21 Allah berfirman :” Pada bumi ada tanda-tanda (kebesaran Tuhan ) bagi orang yang
yakin, apakah kamu tidak mengetahui. Konon orang pertama yang menggunakan akal secara serius adalah Thales (Bapak filsafat) gelar ini diterima karena ia mengajukan pertanyaan :”Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini? Ia menjawab ”Air” setelah itu silih berganti filisof zaman itu
BAB II
I. PENGERTIAN FILSAFAT
Orang yang berfilsafat dinamakan filosof dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang , ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikit filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.[1]
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu berdasarkan pikiran/ rasio belaka.
a. Menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
b. Menurut Plato( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
c. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
d. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
e. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
f. Immanuel kant (1724 – 1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan : yaitu
apakah yang dapat kita ketahui (dijawab dengan Metafisika)
Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan etika)
Sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan agama)
Apakah yang dinamakan manusia (dijawab dengan antropologi)
g. Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah :
(1) Satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta(Philosophy is an attitude toward life and the universe)
(2) Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah (Philosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquired)
(3) Filsafat adalah satu perangkat masalah ( philosophy is a group pf problems)

(4) Filsafat ialah satu perangkat teori atau isi pikiran (philosophy is a group of system of though)[2]
h.Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix
suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan- kesimpulan yang universal
i.Al- Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud.(al-ilm bil maujudat bimahiya maujudah). Tujuan terpenting mempelajari filsafat adalah mengetahui tuhan, bahwa ia esa dan tidak bergerak, bahwa ia menjadi sebab yang aktif bagi semua yang ada , bahwa ia mengatur alam ini dengan kemurahan, kebijaksanaan dan keadilan-Nya, Seorang filosof atau al hakim adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang zat yang ada dengan sendirinya (al-wajibli-dzatihi), Wujud selain Allah , yaitu mahluk adalah wujud yang tidak sempurna.
j. Ikwanushafa bagi golongan ini, filsafat itu bertingkat-tingkat , pertama cinta kepada ilmu, kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud, menurut kesanggupan manusia dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai ilmum mengenai lapangan filsafat diketahui ada 4 yaitu matematika, logika, fisika dan ilmu ketuhanan. Sedang ilmu ketuhanan mempunyai bagian:1. mengenal Tuhan, 2 ilmu kerohanian yaitu malaikat, 3. ilmu kejiwaan 4. Ilmu politik (politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum, politik khusus) 5. ilmu akherat.[3]
k. Ibnu Sina
Pembagian filsafat bagi Ibnu sina pada pokoknya tidak berbeda dengan pembagian yang sebelumnya, filsafat teori dan filsafat amalan. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah:
ilmu tentang turunnya wahyu dan mahluk-mahluk rohani yang membawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaimana cara wahyu itu disampaikan, dari sesuatu yang bersifat rohani kepada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar.
ilmu akherat (Ma’ad) antara lain memperkenalkan kepada kita bahwa manusia ini tidak dihidupkan lagi badannya, maka rohnya yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.[4]
l. Al-Kindi ,diikalangan kaum muslimin , orang yang pertama memberikan pengertian filsafat dan lapangannya adalah Al-kindi, ia membagi filsafat 3 bagian :
1. Thibiyyat (ilmu fisika) sebagi sesuatu yang berbenda
2. al-ilm-urriyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung , tehnik, astronomi, dan musik,berhubungan dengan benda tapi punya wujud sendiri, dan yang tertinggi adalah
3. ilm ur-Rububiyyah (ilmu ketuhanan)/ tidak berhubungan dengan benda sama sekali.

II. BERFIKIR KEFILSAFATAN
Berfikir kefilsafatan ialah berfikir sedalam-dalamnya tentang fenomena ala realitas secara logis dan radikal, komperhensif untuk memperoleh jawaban di hiasi dengan nuansa khas filsafat yaitu spekulatif dan skeptis sampai kepada inti hakikat suatu persoalan.

III. CIRI-CIRI PERSOALAN KEFILSAFATAN
Bersifat umum atau universal
Tidak factual
Bersangkutan dengan nilai
Berkaitan dengan arti
Implikatif (akibat logis)[5]

IV. KETERKAITAN, PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ILMU, FILSAFAT
DAN AGAMA
Ilmu, Filsafat dan Agama mempunyai hubungan yang sangat berkaitan dalam kehidupan manusia apabila tidak ada salah satu atau ketiganya dalam hidup maka tidak akan berkembang, di dalam diri manusia dilengkapi tiga alat dan tenaga utama, yaitu akal pikir, rasa, dan keyakinan. ilmu dan filsafat dapat bergerak dan berkembang karena akal pikiran manusia, dan agama dapat bergerak dan berkembang berkat adanya keyakinan . Karenanya manusia dapat mencapai kebahagiaan dalam dirinya,
Tiga alat dan tenaga utama manusia selalu melekat pada setiap diri manusia dan terterap dalam kaitan dengan Ilmu mendasarkan pada akal piker lewat pengalaman dan indra dan filsafat mendasar pada otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia, sedangkan agama mendasarkan pada otoritas wahyu.[6]
Bicara pengetahuan maka kita akan bicara tentang penalaran, kemampuan penalaran manusia menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh, Binatang hanya terbatas mempunyai pengetahuan untuk kelangsungan hidupnya saja (survival). Hakikat penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan karena perasaan, meskipun kata pascal, hatipun mempunyai logika sendiri.
Agama adalah pengetahuan yang didapat manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hambanya yang terpilih yang disebut nabi dan Rasul . agama menjadi kunci dalam wahyu. Agama menerangakan kepada manusia tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau oleh manusia, agama bisa menjadi informasi dan sekaligus konfirmasi terhadap ilmu pengetahuan yang didapat
manusia

A. PRA SOKRATES (KUNO)
1. THALES (625 – 545SM)
Asal mula segala sesuatu adalah air, penemuannya didasarkan pada kenyataan bahwa air dapat diamati dalam bentuk yang bermacam-macam
2. ANAXIMANDROS (610-540 SM)
Asas pertama ialah to apeiron (yang tak terbatas) karena tidak memiliki sifat-sifat benda yang dikenal manusia disebabkan karena adanya perceraian sehingga anasir-anasir saling berlawanan dan ada saling hukum keseimbangan
3. ANAXIMENES (538-480 SM)
Asas pertama adalah hawa atau udara karena udara meliputi seluruh jaagt raya dan udara pula yang menjadikan manusia hidup seperti halnya dengan jiwa manusia karena udara mempersatukan seluruh jagat raya.[7]
4. PHYTAGORAS (580-500 SM)
“Rahasia dengan suatu kepercayaan bahwa jiwa tidak dapat mati dan usaha mempelajari ilmu pasti”asas segala sesuatu adalah bilangan yang mewujudkan satu kesatuan.
5. XENOPHANES (570- 480 SM)
Yang ilahi adalah satu-satunya yang ada,yang ilahi tiada awalnya, kekal, esa, universal.
6. HEARKLEITOS (540 – 480 SM)
Filsafat tentang “ menjadi “ sesuatu selalu bergerak.
7. PARMENINDES (540- 475 SM)
Gagasan tentang “Ada” kebenaran yang tidak mungkin dipungkiri.
8. ZENO (490 SM)
Gerak adalah khayalan tiada kejamakan dan tiada ruang kosong
9. EMPEDOKLES (492-432 SM)
Penggabungan dan pemisahan anasir dipengaruhi kekuatan cinta dan benci , hukum penggabungan
10. ANAXAGORAS(499-420 SM)
Kenyataan bukan 1 tetapi terdiri dari beberapa anasir.
11. LEKIPPOS DAN DEMOKRITOS (460 – 370 SM)
Atom 1 dengan yang lain tidak berbeda kaulitasnya, atom jumlahnya tidak terbilang dan atom tidak tampak senantiasa selalu bergerak lalu jiwa manusia terdiri dari atom juga.
B. JAMAN KEEMASAN YUNANI
1. SOCRATES (470 – 399 SM)
Dengan sekuat tenaga ia menentang ajaran para sofis. Ia membela yang benar dan yang baik, sebagai nilai-nilai yang obyektif yang harus di junjung tinggi oleh semua orang. Ia seorang filsuf yang jujur dan berani. Ia dihukum mati dengan meminum cawan berisi racun. Murid yang paling setia adalah Plato
2. PLATO (427 – 347 SM)
Dilahirkan di Antena dalam kalangan bangsawan, ia mendirikan sekolah diberi Akademia. Menurut Plato , manusia dapat dibandingkan orang tahanan, mereka hanya
melihat bayang-bayang yang dipantulkan dinding gua, namun setelah dilepaskan mereka melihat cahaya matahari yang menyilaukan, dan orang yang lepas tadi, masuk lagi ke dalam gua dan memberitahukan kepada teman-temannya bahwa bayangan di dalam gua itu bukan realitas, Tapi realitas yang diceritakan kepada teman-temannya dalam gua tidak dipercaya oleh mereka . Menurut plato realitas seluruhnya seakan terbagi atas 2 dunia (dunia yang terbuka dengan rasio dan dunia yang terbuka dengan pancaindra). Dunia rasio terdiri dari ide-ide dan dunia pancaindra terdiri dari jasmani.Dunia yang ideal. (yang terdiri dari ide-ide) merupakan obyek bagi rasio kita, Apabila dunia jasmani dengan cara yang tidak sempurna, maka filsuf harus sanggup melepaskan diri dari dunia jasmani agar sanggup memandang dunia ideal yang sempurna Dalam manusia terdapat terdapat jiwa dan tubuh, Sebelum dilahirkan dalam tubuh jasmani, jiwa sudah berada dan memandang ide-ide, sekarang jiwa merasa terkurung dalam tubuh dan senantiasa rindu akan memandang bahagia yang dinikmatinya sebelum lahir dalam tubuh, tetapi dalam eksistensi jasmani sekarang. Manusia sanggup pula memperoleh sedikit pengetahuan tentang ide-ide yang pernah dipandang dan ingatan itu dapat dihidupkan kembali sejauh manusia melepaskan diri dari dunia jasmani.
3. ARISTOTELES (384 – 322 SM)
Berasal dari Stageira di daerah thrake, Yunani utara, belajar dalam Akademi Plato di Anthena, tinggal di sana sampai plato wafat. 2 tahun mengajar pangeran Alexander Agung , lalu kemudian Ia mendirikan sekolah bernama Lykeion (dilatinkan Lyceum) . Aristoteles lebih kearah ilmu pengetahuan yang sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data kongkret. Kritik tajam ditujukan pada Plato tentang ide-ide, jadi manusia yang kongkret aja. Ia berpendapat setiap jasmani terdiri 2 hal yaitu bentuk dan materi, Namun yang dimaksudkannya bentuk materi dalam arti metafisika. Materi
menurutnya adalah materi yang pertama (hyle prote) . dengan kata pertama dimaksudkan bahwa meteri sama sekali tidak ditentukan. Dengan kata pertama materi pertama selalu mempunyai salah satu bentuk Bentuk (morphe) ialah perinsip yang menentukan. Karena materi pertama suatu benda merupakan benda kongkret mempunyai kodrat tertentu, termasuk jenis tertentu (pohon misalnya bukan binatang) dan akibatnya dapat di kenal oleh rasio kita. Dengan itu kiranya jelas bahwa buat nya ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkret. Teori ini dinamakan Hilemorfisisme ( berdasarkan kata yunani Hyle dan morphe) menjadi dasar ia melihat manusia. Sehingga bila manusia mati dapat disimpulkan maka jiwanya pun mati.
C. MASA HELLENISTIS DAN ROMAWI
Alexander Agung mendirikan kerajaan besar yang meliputi Yunani dna kerajaan Timur. Setelah ia meninggal maka terpecahlah kesatuan politik kerajaan. Dalam bidang filsafat tidak lagi terdapat pemikir besar kecuali Plotinus.
1.STOISISME
Stoa didirikan di athena oleh Zeno dari Kition tahun 300 SM. Nama stoa menunjukan serambi bertiang, tempat Zeno memberi pelajaran. Menurut Stoisme , jagat raya dari dala sama sekali ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut Logos (rasio), berdasarkan rasio manusia sanggup mengenal orde universal dalam jagat raya. Ia akan hidup bijaksana dan bahagia asal saja ia bertindak menurut rasionya. Jika memang demikian ia akan menguasai nafsu-nafsunya dan mengendalikan diri secara sempurna, supaya dengan penuh keinsyafan ia menaklukan diri pada hukum-hukum alam. Seorang yang hidup menurut prinsip stoisme sama sekali tidak memperdulikan kematian dan segala malapetaka lain, karena insyaf bahwa semua akan terjadi menurut keharusan mutlak. Sudah nyata kiranya bahwa etika stoisme ini betul-betuk bersifat kejak dan menuntut watak yang sungguh-sungguh kuat. Ini cocok untuk watak romawi yang pragmatis. Dan suskses besar jama SENECA (2 -650 dan Kaisar Marcus Aurelius (121 – 180).
2. EPIKURISME
Epikuros (341 -2700 berasal dari pulau Samos . Menurutnya segala-galanya terdiri dari atom-atom yang senantiasa bergerak dan secara kebetulan tubrukan yang satu dengan yang lain. Manusia hidup bahagia jika ia mengakui susunan dunia ini dan tidak ditakutkan dengan dewa atau apapun juga.Dewa- dewa tidak mempengaruhi dunia. Lagipula untuk memperoleh kebahagiaan manusia mesti menggunakan kehendak bebasnya dengan mencari kesenangan sedapat mungkin. Terlalau banyak kesenangan akan mengelisahkan batin manusia. Orang bijaksana tahu membatasi diri dan terutama mencari kesenangan rohani, supaya batin menjadi tetap tenang.
3. SKEPTISISME
Dipelopori oleh PYRRHO (365 – 275 SM)Bukan merupakan suatu aliran yang jelas, melainkan suatu tedensi agak umum yang hidup terus sampai akhir masa Yunani Kuno. Mereka berfikir bahwa dalam semua bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap Umum mereka kesangsian.
4. EKLEKTISISME
Merupakan tendensi umum yang memetik perbagai unsur filsafat dari aliran-aliran lain tampa berhasil mencapai kesatuan pemikiran yang sungguh-sungguh. Salah seorang warga Romawi yang digolongkan dalam aliran ini CICERO (106 – 43). Dan PHILO (25 SM- 50 M) ia berusaha mendamaikan agama Yahudi dengan Filsafat Yunani khusunya Plato.
5. NEOPLATONISME
Puncak terakhir dalam sejarah fisafat yunani adalah ajaran ini, dimaksukan untuk menghidupkan kembali filsafat Plato. Filsuf yang mensintesa PLATINOS (203/4 – 269/70). Ia lahir di Mesir dan umur 40 tahun tiba di Roma untuk mendirikan sekolah filsafat disana. Seluruh sistem Filsafat Plotinos berkisar pada konsep kesatuan. Atau dapat juga kita katakan bahwa seluruh sistem filsafatnya Berkisar pada Allah, sebab Allah disebut dengan nama”yang Satu”. Semuanya yang ada berasal dari ”yang satu”.
Dan semuanya yang ada berhasrat pula untuk kembali kepada yang satu. Oleh karenanya dalam realitas seluruhnya terdapat gerakan dua arah, dari atas kebawah dan sebaliknya.
A, Dari sudut pandang atas kebawah.
Semua mahluk yang ada bersama-sama merupakan keseluruhan yang tersusun hirarki.
Pada puncak hirarki terdapat ” Yang satu” (to Hen), yaitu Allah . dari Allah (Yang Satu) dikeluarkan Akal budi (nus) . Akal budi sama dengan ide-ide plato yang dianggapnya intelek yang memikirkan dirinya sendiri. Akal budi terdiri dari pemikiran dan apa yang dipikirkan. Dari akal budi itu berasal jiwa dunia (psyche) , akhirnya dari jiwa dunia dikeluarkan materi (Hyle) yang bersama jiwa dunia merupakan jagat raya. Selaku taraf yang paling rendah dala seluruh Hirarki, materi adalah mahluk yang paling kurang kesempunaannya dan sumber segala kejahatan.
B. Dari bawah ke atas.
Setiap taraf hirarki mempunyai tujuan untuk kembali kepada taraf lebih tinggi yang paling dekat dan karena itu secara tak langsung menuju kepada Allah. Dan dicapai dengan 3 langkah: penyucian (laku tapa), kedua penerangan (dengan pengetahuan ide-ide akal budi), Ketiga adalah penyatuan dengan Tuhan yang melebihi segala pengetahuan. Langkah yang terakhir ini ditunjukkan Plotinos dengan nama ekstasis (ingris Ectasy). Porphyrios menceritakan bahwa selama 6 tahun ia berada bersama dengan Plotinis, 4 kali ia menyaksikan gurunya mengalami ekstasi
D. FILSAFAT MODERN
1. RASIONALISME
Tokoh : Rene Descartes (1596-1650), Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap obyek Sensasi indra à dipertimbangkan akal àpengetahuan yang benar Rasinalisma (logis) + empirisisme àmetode sains àpengetahuan sains
2. EMPIRISME
Tokoh : John Locke (1632-1704) berasal dari empeiria, empeirikos (bahasa yunani) = pengalaman. Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya (pengalaman indrawinya = sensasi) Metoda : eksperimen, empirisme ini lemah karena keterbatasan indrawi manusia
3. POSITIVISME
Tokoh : August Compte (1798 – 1857), pada dasarnya itu sama dengan empirisme plus rasionalisme. Indra ini penting dalam memperoleh pengetahuan terapi harus dipertajan dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen, kemajuan sains benar-benar di mulai
4. KRITISISME
Tokoh : Kant (1724 – 1804), mengakui peranan akal dan ditunjang dengan empirisme yang dibuktikan dengan mengadakan sintetis. Walaupun semua pengetahuan bersumber dari akal , tetapi adanya pengertian timbul dari benda-benda yang empiris.
5. IDEALISME
Tokoh : J.G. Fichte (1762 – 1814), F.W.J. Scheling (1775 – 1854), Schopenhauer (1788 – 1860), Dialektika, segala peristiwa di dunia ini dapat dimengerti jika memenuhi syarat, yaitu mengandung penjelasan-penjelasan dan ide yang berfikir sebenarnya gerak yang menimbulkan gerak lain.gerak >Tesis>Anti tesis>sintetis[8]
6. EVOLUSIONISME
Tokoh : Charles Robert Darwin (1809 – 1882) pada hakikatnya antara binatang dengan manusia dan benda apapun tidak ada bedanya. Mungkin letak perbedaannya dalam segi perkembangannya, manusia pada masa akan datang pemikirannya lebih sempurna.[9]
7. MATERIALISME
Tokoh : Karl Marx (1818 – 1883), tugas seorang filosof bukan untuk menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya, perubahan ditentukan oleh keadaan ekonomi.[10]
8. NEO – KANTIANISME
Tokoh : Wilhelm Windelband (1848 – 1915), Herman Cohen (1842 – 1918), Paul Natrop (1854 – 1924) dan Heinrich Reickhart (1863 – 1939), keyakinan pada dasarnya akal manusia untuk mencipta, karena segala sesuatu dikatakan ada apabila terlebih dahulu dipikirkan[11]
9. PRAGMATISME
Tokoh : William James (1842 – 1910) suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.[12]
10. FILSAFAT HIDUP
Tokoh : Henry Bergson (1859 – 1941) alam semesta ini merupakan organisme yang kreatif perkembangannya tidak sesuai dengan implikasi logis sehingga menghasilkan akibat- akibat dengan spectrum baru, yang berhasil membentuk organisme kreatif diantaranya manusia.[13]
11. FENOMENOLOGI
Tokoh : Edmund Husserl (1839 – 1939) objek / benda diberi kesempatan untuk mendeskripsikan fenomenologis yang didukung metode deduktif agar dapat melihat gejala secara intuitif.[14]
12. EKSISTENSIALISME
Tokoh : Soren Kierkegaard (1813 – 1855) memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya , bagaimana manusia berada dalam dunia.
13. NEO – THOMISME
Tokoh : Tomas Aquinas, ajaran Thomas harus diikuti akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajaran thomas benar-benar sempurna.[15]

VI. SISTEMATIS FILSAFAT
TERDIRI ATAS 3 CABANG BESAR FILSAFAT
1. EPISTEMOLOGI (TEORI PENGETAHUAN) Cara memperoleh pengetahuan
logika dengan cara membentuk pengetahuan itu sendiri
Terdiri atas :
1. Empirisme (John Locke 1632-1704)
2. Rasionalisme (Rene Decartes 1596 – 1650)
3. Positivisme (August Compte, 1798 – 1857)
4. Intusionisme (Hendri Bergson, 1859 – 1941)
Hasilnya : 1. sains, 2. Filsafat Logika, 3. Latihan rasa (intuisi)
2. ONTOLOGI (TEORI HAKIKAT) Pembahasan pengetahuan objek itu dipikirkan
secara mendalam sampai pada hakikat
Terdiri atas :
1. materialisme/naturalisme : hakikat benda adalah materi itu sendiri, rohani, jiwa, spirit muncul dari benda, Naturalisme tidak mengakui roh , jiwa tentu saja termasuk Tuhan
2. Idealisme : Hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan : nilai rohnya lebih tinggi dari badan, manusia tidak dapat memahami dirinya daripada dunia dirinya.
3. Dualisme : hakikat benda itu dua, materi dan imateri, materi bukan muncul dari roh, roh bukan muncul dari benda, sama-sama hakikatnya
4. Skeptisisme
5. Agnotisme : manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda
Hasilnya : 1. Kosmologi, 2. Antropologi, 3. Theodicea, 4. Macam-macam filsafat
3. AKSIOLOGI (teori nilai ) guna pengetahuan etika-estetika (nilai dan guna
pengetahuan) terdiri dari
Terdiri dari
1. Hedonisme : sesuatu dianggap baik jika mengandung kenikmatan bagi manusia (hedon)
2. Vitalisme : baik buruknya ditentukan oleh ada tidaknya kekuatan hidup yang dikandung obyek-obyek yang dinilai, manusia yang kuat, ulet, cerdas adalah manusia yang baik
3. Utilitarisme : Yang baik adalah yang berguna, jumlah kenikmatan- jumlah penderitaan = nilai perbuatan
4. Pragmatisma : Yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan, ukuran kebenaran suatu teori ialah kegunaan praktis teori itu, bukan dilihat secara teoritis

VII. FAEDAH MEMPELAJARI FILSAFAT
· Terlatih berfikir serius.
· Mampu memahami filsafat.
· Memungkinkan menjadi filosof.
· Menjadi warga negara yang baik.[16]
· Menambah ilmu pengetahuan.
· Menjadi lebih peka terhadap diri dan lingkungannya.
· Membuat alternative ditengah-tengah kemajuan teknologi.[17]
[1] Endang Saifuddin Anshari Ilmu, Filsafat dan Agama ,Bina ilmu Surabaya 1979 , 79

[2] ibid
[3] Ahmad hanafi, Ma, Pengantar filsafat islam , Bulan Bintang Jakarta 1990) ,8

[4] Ibid, 8 - 9
[5] Filsafat umum , 10 - 11
[6] Ibid hal 18
[7] DR. Harun Hadiwijino, sari sejarah filsafat barat 1 , 18
[8] Filsafat umum hal 119 - 120
[9] Ibid hal 122
[10] Ibid hal 123
[11] Ibid hal 124
[12] Ibid hal 124-125
[13] Ibid hal 125-126
[14] Ibid hal 126-128

[16] DR. Ali Anwar,M si dkk Rangkuman Ilmu Perbandingan Agama Dan Filsafat,Pustaka
Setia,Bandung, 2005 hal 30
[17] Filsafat umum hal 19