BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Rabu, 26 Januari 2011

UBUDIYAH DALAM DUNIA TASAWUF


I. Latar Belakang
Kita mencoba mengkaji tentang beberapa istilah dalam dunia tasawuf yang lebih dispesifikan pada istilah ubudiyah, memang sangat sulit jika mengkaji materi masjid untuk dijadikan materi ilmiah menurut keterangan dosen Kajian Teks Tasawuf Kadir Riyadi, Ph. D namun kami tetap berusaha menjadikannya sebagai materi yang bisa dikatakan mendekati layaknya ilmiah,
Ubudiyah dalam dunia tasawuf sebenarnya bersifat relatif, Ubudiyah merupakan cara spiritual yang dilakukan oleh seseorang yang sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Alloh, tiada takaran pasti dalam menjelaskannya, Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya Risalah Qusyairiyah menerangkan konsep ubudiyah ini tidak melalui definisi namun dengan menukil dan mengumpulkan pendapat-pendapat para sufi dan ulama’ lainnya.
Ubudiyah dalam segi bahasa di ambil dari kata Ibadah, yaitu menunaikan perintah Alloh dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba Alloh, namun ubudiyah disini tidak hanya sekedar ibadah biasa, ibadah yang memerlukan rasa penghambaan, yang diinterpetasikan sebagai hidup dalam kesadaran sebagai hamba.[1] Jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang didalamnya terkandung seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, sabar dan sebagainya. Jadi didalam mengerjakan ibadah hatinya dipenuhi rasa tanggung jawab. Perbedaan antara ibadah dan penghambaan sangatlah halus, ibadah sendiri dicontohkan semua kewajiban mencari rezeki dan kebutuhan jasmaniah, dengan niat mendapat ridha Alloh. Sedangkan perbuatan ibadah yang diperlukan rasa penghambaan yang dilakukan dengan cara lain dan tanggung jawab yang merupakan dimensi batin dari pemenuhan tugas mencari nafkah dan keperluan jasmani, dan ini merupakan derajat kesadaran tertentu didalam penghambaan[2]
Untuk lebih memahami tentang ubudiyah itu seperti apa, maka dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan pengertian ubudiyah dengan menganalisa pendapat-pendapat para sufi dan ulama yang disebutkan dalam Risalah Qusyairiyah dan membandingkan dengan pendapat dari buku lain, unsur yang terdapat dalam ubudiyah dan bagaimana pengaruh ubudiyah dalam ibadah seseorang.

II. Ubudiyah dalam Kitab Risalah Al-Qusyairiyah

Dengan berdasar pada ayat Alqur’an surat Al-Hijr ayat 99
   
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Q.S. Al-Hijr: 99)[3]


Sehingga ubudiyah secara umum dapat diterjemahkan sebagai ibadah yakni menyembah Alloh dengan sungguh-sungguh. Ibadah dalam wilayah ini sudah benar-benar ditujukan hanya untuk Alloh, tidak untuk selain-Nya. Dipenuhi rasa penghambaan kepada Alloh.
Makna ibadah adalah sebuah ketundukan yang total dan maksimal yang hanya dipersembahkan kepada Allah karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya. Ketundukan ini dibuktikan dengan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi. Untuk lebih memahami penerapan ubudiyah kita dapat melihat contoh Ketika nabi Musa as mengembara mencari guru untuk belajar ilmu-ilmu batiniah yang berbeda dengan ilmu lahiriah, Allah mempertemukan beliau yang saat itu disertai Yusa’ bin Nun di sebuah tempat perpaduan dua lautan (majma’ul Bahrain) dengan seorang “abdan min ‘ibadina”, seorang hamba Allah yang saleh, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, karena ketinggian kualitas ubudiyah serta keiklasannya, maka ia bisa mendapatkan karunia ilmu laduni yaitu ilmu yang didapat dengan mudah tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu Atau dalam contoh lain Ketika iblis bersumpah akan menyesatkan semua anak cucu adam, maka terpelesetlah lidahnya sehingga menyebutkan sebuah rahasia besar bahwa ada segolongan manusia yang tidak akan termakan rayuannya, “ia adalah hamba-hamba Alloh yang Ikhlas” seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat as-Shad ayat 83. Disini kita temukan kembali keampuhan dari maqam ubudiyah yang dimiliki seseorang.[4] Jadi jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang mempunyai rasa seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, ikhlas dan sebagainya.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Abu Hurairah RA bahwa Rosululloh SAW bersabda :

سبعة يظلهم الله فى ظله يوم لا ظل الا ظله امام عادل وشاب نسأ بعبدة الله تعالى

ورجل قلبه معلق بالمسجد ادْا خرج منه حتى يعود اليه ورجلان تحاب فى الله اجتمع على دْالك

وتفرقا عليه ورجل دْكر الله تعالى خاليا ففاضة عيناه ورجل دعته امرأة دْات حسن و جمل فقال انى اخاف الله

رب العالمين ورجل تصدق بصدقة فاخفاهاحتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

Tujuh orang yang akan diberi naungan oleh Alloh pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya. Imam yang adil, Pemuda yang gemar melakukan ibadah kepada Alloh. Seorang yang hatinya selalu bergantung (berhubungan) dengan masjid apabila keluar sampai dia kembali, Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, Seorang yang berzikir kepada Alloh sendirian maka kedua matanya berlinang air mata, Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik jelita dan ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Alloh Tuhan semesta alam” dan Seseorang yang bersedekah dengan suatu pemberian secara tersembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya. (HR. Turmudzi)[5]

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi dalam bukunya Risalah Qusyairiyah mengatakan, bahwa ia telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Ubudiyah lebih sempurna daripada ibadah. Tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ‘ubudah. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). Ubudiyah dimiliki oleh orang khawas. ‘Ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas.” Beliau juga mengatakan, “Ibadah dimiliki oleh orang yang memiliki ilmu yakin. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang mempunyai ainul yakin. Dan ubudah dimiliki oleh orang yang mempunyai haqul yakin”. Beliau juga mengatakan, ibadah dimiliki oleh orang yang mujahadah (bersungguh-sungguh). Ubudiyah dimiliki oleh orang yang Mukabadah (Yang terbebani dengan beratnya cobaan), Ubudah dimiliki oleh orang yang musyahadah (menyaksikan Tuhan).” Barang siapa yang tidak merendahkan dirinya maka dia adalah pemilik ibadah. Barang siapa yang tidak kikir pada hatinya maka dia adalah pemilik ubudiyah. Sedangkan barang siapa yang tidak kikir pada ruhnya maka ia adalah pemilik ubudah.[6]
Jadi Ubudiyah merupakan tingkatan ibadah untuk orang yang sudah memiliki kualitas tinggi terhadap imannya dan tauhidnya, sehingga didalam tiap-tiap ibadah dan do’anya selalu didasari rasa kehambaan diri kepada Allah (Aal-`Ubudiyah).
Oleh sebab itu Kenikmatan berdo’a layaknya ubudiyah dapat dirasakan apabila kita telah menghayati do’a  tiga macam:
(a)     Menyerah kepada Allah pada suatu tujuan, dengan berbaik sangka yakni beranggapan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang paling baik buat kita.
(b)    Bertawakkal kepada Allah dalam kita mendapatkan diri kepadaNya. Artinya kita tidak berpegang kepada lainnya selain hanya kepada Allah
(c)     Kita rela pada apa yang diputuskan oleh Allah. Artinya apakah Allah memperkenankan doa kita atau tidak. Jika Allah memperkenankan maka kita bersyukur kepadaNya dan jika tidak maka kita pun menerimanya juga dengan ikhlas.
seseorang yang sudah sampai kepada tingkatan maqom ini berarti tauhidnya telah begitu tinggi dan murni oleh karena itu hatinya selalu tunduk kepada Allah dalam segala hal.
Didalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah ini juga disebutkan tentang satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud ubudiyah adalah menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang apa yang datang dari dirimu dengan pandangan merendahkan, dan menyaksikan sesuatu yang dihasilkan dari perjalanan hidupmu sebagai ketetapan Alloh. Menurut pendapat yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiyar terhadap sesuatu yang riil sebagai suatu ketetapan. Dan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan dan mengakui sesuatu yang telah diberikan dan diatur oleh Alloh berupa umur yang panjang dan anugerah. Lalu menurut sebagian yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.[7]
Al-Qusyairi juga menyebutkan didalam kitabnya Risalah Al-Qusyaisiyah, bahwa Abu Abdullah Muhammad bin Khafif pernah ditanya “Kapan ubudiyah dianggap sah.” Dia menjawab, “Apabila dia telah melimpahkan semua urusan kepada Tuhannya dan bersabar atas cobaan-Nya”.
Seorang yang beribadah kepada Alloh dengan sungguh-sungguh tidak boleh mengeluh dengan keadaannya, jika ia mengeluh maka tidak dianggap syah ibadahnya tadi. Menurut Sahal. Ibadah seseorang tidak dianggap sah sampai ia tidak mengeluh dalam empat hal : Lapar, telanjang  dengan tidak memiliki pakaian, fakir dan hina. Menurut satu pendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menyerahkan segala urusan kepada Alloh dan menanggung semua urusannya. Menurut satu pendapat lagi, tanda-tanda ubudiyah adalah menghindarkan pengaturan dan menyaksikan ketetapan.  
Dzunun Al-Mishri mengatakan, “Yang dimaksud ubudiyah adalah menjadi hamba yang selalu berada di dalam segala hal sebagaimana Tuhan yang selalu berada dalam segala hal. “. Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Penghamba kenikmatan sangat banyak jumlahnya dan penghamba Dzat Pemberi ni’mat sangat kuat eksistensinya”. [8]
Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, “Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ‘ Engkau adalah budak yang engkau sendiri berada di dalam perbudakannya dan tawanannya. Apabila engkau berada di dalam tawanan dirimu , maka engkau adalah budak duniamu’’.

Rasululloh  bersabda :


تعس عبد الدرهم تعس عبد الديار تعس عبد الخميصة

Alangkah celaka budak dirham, celaka budak rumah, celaka budak pakaian. (HR. Bukhori)[9]


Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Saya telah mendengar Ibrahim An-Nash Abadzi berkata,’Nilai orang yang menyembah tergantung dari yang disembah, sebagai mana kemuliaaan orang yang makrifat tergantung yang dimakrifati”.
Menurut Abu Hafs, Ubudiyah adalah hiasan hamba. Barang siapa yang meninggalkannya maka ia tidak akan mendapatkan hiasan. Menurut An-Nabaji, dasar ibadah memiliki tiga bentuk :
1. tidak menolak hukum hukum Alloh
2. Tidak merendahkan sesuatu.
3. tidak meminta kepada orang lain karena kebutuhan.
Menurut Ibnu Atha’ Ubudiyah memiliki empat bentuk,
1. memenuhi janji
2. menjaga batasan-batasan hukum
3. ridha terhadap sesuatu yang ada
4. sabar terhadap sesuatu yang tidak ada
‘Amru bin Utsman Al Makki menuturkan kisahnya, “Saya tidak pernah melihat seorang penyembah di kebanyakan tempat yang saya temuai di Makkah Al-Mukarramah, tidak juga seorang pun yang datang kepada kami pada musim-musim haji atau yang lain, yang sungguh-sungguh beribadah. Tidak pula dijumpai perilaku ibadah yang berketetapan dan terus menerus menjalankan ibadah dengan keberanian menanggung hal-hal yang sulit. Saya juga tida melihat seorangpun yang benar-benar mengagungkan perintah Alloh, tidak pula hamba yang berani mempersempit dirinya dan memperluas orang lain.”
Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, “Guru saya Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada Ubudiyah dan tidak ada nama yang lebih sempurna bagi orang mukmin selain nama yang diakitkan dengan fungsi ubudiyah / penghambaan. Oleh karena itu Alloh mensifati Nabi terkasihnya Muhammad pada malam mi’raj dengan panggilan :
  
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al-Isra’ : 1)[10]

[847] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.

Dan firman Alloh yang lain : 

lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.(Q.S. An-Najm : 10)[11]

Sehingga seandainya ada gelar yang lebih mulia daripada sifat kehambaan tentulah Dia telah memberikannya untuk beliau. Dalam konteks inilah disya’irkan :

Wahai Amru, membalaskan tumpahnya darahku demi Zahra-ku
Penglihatan dan pendengaran tahu semua ini
Jangan panggil diriku kecuali dengan “Wahai hamba Zahra”
Sesungguhnya nama termulia panggilan itu bagiku

Sebagian ahli sufi mengatakan, “Hanya ada dua yang penting, senang dengan sesuatu yang lekat pada dirinya dan percaya pada kemampuan gerak. Jika dua perkara ini terlepas dari anda maka anda benar-benar telah membuktikan fungsi ubudiyah.”
Waspadalah kalian pada lezatnya pemberian sesungguhnya kelezatan ini menjadi tutup bagi orang-orang yang berhati jernih”. Demikian kata Muhammad Al-Wasithi.
Abu Ali al-Jurjani mengatakan, “Ridha adalah ruang ubudiyah. Sabar adalah pintunya, sedagnkan sikap pasrah adalah rumahnya. Karena itu suara ubudiyah berada di pintu, kekosongan diri berada di dalam ruangan, dan istirahat terletak di dalam rumah”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Sebagaimana Rububiyah (sifat ketuhanan) merupakan sifat Al-Haq yang tidak pernah berubah, maka ubudiyah sebagai sifat hamba tidak boleh terpisah selamanya”.

Sya’ir :
Jika kalian meminta kepada-Ku
Katakan “inilah saya hamba-Nya”
Sekalipun mereka yang meminta
Mengatakan “inilah Engkau Tuhanku”.

Ibrahim An-Nashr Abadzi mengatakan, “Ibadah menuntut kelapangan, sedangkan permohonan maaf yang disebabkan kekurangannya adalah lebih dekat pada permintaan ganti dan balasan. Ubudiyah menggugurkan penglihatan hamba atas ketersingkapan intuisi pada yang Disembah.
Menurut al-Junaid, Ubudiyah adalah sikap meninggalkan kesibukan,dan penyibukan diri dengan hal yang merupakan pangkal dari kekosongan (fana’).

III. Hakikat Ubudiyah
Menurut  Imam Ja’far ash-Shadiq, hakikat ubudiyah itu ada tiga macam
  1. Seorang tidak menganggap apa yang Alloh karuniakan kepadanya sebagai miliknya
  2. Seseorang tidak membuat suatu aturan (tadbir) bagi dirinya
  3. Seseorang harus menyandarka seluruh aktivitasnya sesuai dengan perintah dan larangan Alloh.
Apabila seorang hamba tidak menganggap adanya hak kepemilikan terhadap apa yang Alloh anugrahkan kepadanya, maka upaya untuk menginfakkan harta sesuai dengan apa yang diperintahkan Alloh akan terasa ringan baginya. Sebab, harta tersebut bukan miliknya, sehingga tidak layak dia bersikap bakhil. Apabila seorang hamba menyerahkan pengaturan dirinya kepada Zat Yang Maha Mengatur, maka dia akan merasa enteng atas berbagai musibah dunia. Apabila seorang hamba sibuk dengan berbagai perintah dan larangan Alloh, dia tidak mempunyai kesempatan untuk berbantah-bantahan dan berbangga-bangga terhadap manusia. Apabila Alloh telah memuliakan seseorang dengan tiga perkara itu maka terasa ringanlah baginya segala urusan dunia, godaan iblis dan makhluk lain. Dengan begitu maka manusia dalam usahanya mencari rizki tidak akan bermaksud bersaing dan bermegah-megahan dengan orang lain. Dalam segala hal maka dia tidak ingin mencari kemuliaan dan kedudukan ditengah-tengah manusia, dia tidak juga membiarkan hari-hari nya dalam keadaan bathil dan ini merupakan awal dari tingkatan takwal.[12]
Ubudiyah memberikan terapi psikologi yang luar biasa, selain mengajarkan bagaimana tata cara beribadah yang benar-benar layaknya hamba beribadah pada tuhannya, ubudiyah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pengaturan gaya hidup seseorang, dengan tidak menganggap segala sesuatu didunia ini adalah milik Alloh maka tiada beban dalam beramal, sehingga selain orang itu dermawan ia juga akan mendapatkan kesan baik yang muncul dari masyarakat disekitarnya, ia akan disenangi oleh mereka dan kerukunan antar masyarakat dapat terjalin. Selain itu jika ia bergaya hidup sesuai dengan kemampuannya tidak bersaing bermegah-megahan atau ingin mendapatkan kemuliaan ditengah-tengah masyarakat, hidupnya akan lebih stabil, tidak menggebu-gebu berambisi yang bisa membuat badan dan rohaninya sakit, jika seseorang sangat berambisi untuk mendapatkan sesuatu dan belum diijinkan untuk dimilikinya maka akan timbul kontra atau sejenis gejolak protes dalam jiwanya, jiwa yang bergejolak maka berdampak pada badan yang sakit. Akan tetapi  jika seseorang tersebut tidak berambisi dan saat ia diijini untuk memperoleh kekuasaan atau kemuliaan dihadapan manusia maka itu terasa bahwa Alloh memberikan karunia terhadapnya.

IV. Tingkatan-Tingkatan Ubudiyah
Dalam ubudiyah terdapat tingkatan-tingkatan menurut siapa yang menjalani dan mendapatkannya,
Pertama ubudiyah yang bersifat umum. ubudiyah ini bisa dilakukan oleh setiap makhluk Alloh baik muslim ataupun kafir. Inilah yang diistilahkan dengan ketundukan terhadap takdir dan sunnatullah. Allah berfirman:

tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Q.S. Maryam : 93)[13]

hamba yang dimaksud di dalam ayat ini masuk juga orang-orang kafir. Seperti dalam istilah senyum adalah ibadah, orang yang beribadah layaknya senyum tidak harus orang muslim, orang kafirpun bisa senyum dan itulah yang dimaksud ubudiyah tingkat pertama ini.

Kedua, ubudiyah ketaatan yang bersifat umum. Disini mencakup ketundukan setiap orang terhadap syariat Alloh, sebagaimana firman Alloh:
   
dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(Q.S. Al-Furqan : 63)[14]

Didalamnya adanya kepatuhan dan ketundukan dalam menjalani syari’at Alloh, jadi yang dimaksud ubudiyah ini adalah melaksanakan perintah-perintah syariat Alloh dengan penuh rasa penghamba’an dan rendah hati, dan ubudiyah disini dimaksud untuk orang muslim

Ketiga, ubudiyah yang khusus. adalah tingkatan para Nabi dan Rasul Alloh. Sebagaimana firman Alloh tentang Nabi Nuh: 

(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S. Al-Isra’ :3)[15]

Kemudian Allah berfirman tentang Rasulullah:
dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S. Al- Baqoroh : 23)[16]

[31] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.

Dan Alloh berfirman tentang seluruh para rasul:

dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Q.S. Shaad : 45)[17]

Ini merupakan ubudiyahnya para rasul yang tidak ada seorangpun akan bisa mencapainya.[18]  Karena tingkat ubudiyah rosul adalah tingkat ubudiyah yang sudah tinggi, hamba yang dimaksud didalam ayat-ayat itu adalah Rosul, rasa penghambaan seorang rosul dalam beribadah kepada Alloh jelas sangat jauh tingkatannya dari penghambaan kita sebagai umatnya.
Terdapat pula adab-adab berubudiyah :
  1. Adab di hadapan Alloh
  2. Merendahkan diri dan merasa kurang dari Alloh
  3. Tidak meminta kepada Alloh sesuatu yang tidak layak
  4. Menampakkan Kesempurnaan Ubudiyah dengan menggugurkan permintaan, bahkan permintaan ingin masuk surga dan selamat dari neraka sekalipun
  5. Hendaknya tidak membesarkan amal perbuatan sendiri ataupun ketaatan Sendiri, melainkan membesarkan kurnia Alloh, dan tidak membesarkan penampilan kekuasaan dan kekuatannya. melainkan membesarkan kekuasaan dan kekuatan Alloh
  6. Hendaknya tidak mengeluh terhadap tuhannya apabila terjadi sesuatu yang buruk, seperti saat ditimpa musibah, cobaan, dan sebagainya
  7. Hendaknya tidak melontarkan perkataan yang argumentatif kepada Alloh
  8. Bersyukur kepada Alloh atas nikmatnya di dalam semua keadaan
  9. Mengagungkan nama Alloh yang Maha Tinggi
  10. Menunjukkan Ubudiyah terhadap Keagungan dan Keindahan
Ubudiyah dilihat dari pendapat-pendapat dan hakikat serta adabnya dapat diartikan sebagai tatacara untuk beribadah kepada Alloh secara sungguh-sungguh dengan dipenuhi rasa kehambaan dan rasa tanggung jawab. Sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Alloh secara sempurna

V. Analisa
Hal yang dapat saya tangkap dari penjelasan mengenai ubudiyah dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah, ubudiyah dalam dunia tasawuf adalah menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang kemampuan manusia adalah rendah dihadapan kekuasaan Alloh, dan meyakini bahwa segala perjalanan hidup ini adalah bagian dari ketetapan Alloh. Menurut pendapat yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiyar terhadap sesuatu yang riil sebagai suatu ketetapan. Kemudian masih didalam kitab Risalah Al-Qusyaisiyah, disebutkan bahwa Abu Abdullah Muhammad bin Khafif pernah ditanya “Kapan ubudiyah dianggap sah.” Dia menjawab, “Apabila dia telah melimpahkan semua urusan kepada Tuhannya dan bersabar atas cobaan-Nya”. Saya akan mencoba menganalisa dari kata-kata menyerahkan semua urusan kepada Tuhannya, melimpahkan semua urusan disini tidak bermakna menyerahkan semuanya secara  mutlak sehingga manusia tidak melakukan usaha sedikitpun, manusia tetap diberi batasan untuk tetap berusaha mengusahakan apa yang terbaik bagi dirinya, setelah manusia berusaha memilih jalan untuk mengusahakan maka keputusan hasilnya baru ada ditangan Alloh, apakah usaha itu di berikan keberhasilan atau tidak itu wilayah Alloh, dan manusia yang berubudiyah akan bersabar dalam menjalani keputusan Alloh dengan berbaik sangka bahwa itu adalah keputusan yang terbaik yang dipilihkan Alloh untuknya.
Di dalam kitab Risalah Qusyairiyah disebutkan bahwa tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ‘ubudah. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). ubudiyah dimiliki oleh orang khawas dan ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas. Kemudian jika saya sandingkan dengan pendapat dalam buku Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Amatullah Armstrong mengartikan istilah ubudiyah sebagai penghambaan, ubudiyah ini merupakan keadaan hamba yang mendekat kepada Alloh melalui ketaatan. Ubudiyah adalah kedekatan melalui pelaksanaan amal-amal sunnah (qurb al-nawafil). Ini merupakan maqam terendah dari empat maqam kesempurnaan, orang arif berhiaskan sifat-sifat penghambaan (ubudiyah) dan pengabdian (ubudah) setelah kehilangan dirinya sendiri di dalam Alloh (fana’ fillah). Dengan menjadi bukan sesuatu (la syay’) sang hamba kemballi kepada makhluk dengan pengabdian sempurna (ubudah).[19]
Dari kedua pendapat mengenai ubudiyah dari dua sumber yang berbeda itu sudah berbeda pemaknaannya dalam ubudiah, yang pertama mengatakan ubudiyah berada dalam tingkatan kedua setelah adanya ibadah sedangkan pendapat kedua mengatakan ubudiyah adalah tingkatan dasar yang disusul oleh ubudah, kalau menurut pendapat saya, saya cenderung untuk mendukung kebenaran pendapat pertama, karena ibadah dalam ubudiyah bukanlah asal ibadah seperti yang dilakukan orang pada umumnya, ubudiyah memerlukan ujian, rasa tanggung jawab dan rasa penghambaan yang benar-benar ditujukan pada Alloh selain itu ubudiyah juga di dipenuhi rasa takut, tawadhu’, rendah hati dan ikhlas dalam setiap melakukan perbuatan ibadah kepada Alloh. Jadi sebelum seseorang melakukan dan sampai pada tingkatan ubudiyah harus memalui tingkatan ibadah dahulu. Sehingga tata urutannya dimulai dari ibadah, kemudian ubudiah dan yang terakhir tingkatan ubudah yang dapat menyatu dalam tuhannya.
Orang yang mengaku berubudiyah dengan meninggalkan kewajiban dalam hal duniawiyah dengan menghabiskan sisa umurnya hanya semata-mata untuk beribadah itu tidak dibenarkan dalam tata karma, dan akan membuat sulit kehidupan manusia sendiri, ubudiyah tidak menuntut seperti itu dan tidak juga menyengsarakan kehidupan manusia, hanya saja ubudiyah Ismail bin Najid mengatakan, “Jangan mencintai seseorang yang mengerjakan Ubudiyah sehingga ia dapat menyaksikan perbuatannya memperoleh karunia dan menyaksikan keadaannnya memperoleh tuntutan.” Abdullah bin Manazil mengatakan.”Hamba adalah orang yang tidak menuntut pelayanan atas dirinya karena jika demikian maka dia telah menjatuhkan batasan Ubudiyah dan meninggalkan tatakrama.” Sahal bin Abdullah mengatakan Tidak layak bagi hamba beribadah hingga tidak dapat melihat pengaruh kemiskinan dalam ketiadaan, dan melihat pengaruh kekayaan dalam keberadaan”. Menurut satu ungkapan, Ubudiyah adalah menyaksikan Tuhan.
Kalau analisis kami tentang tulisan Al-Qusyairi dalam kitabnya, beliau terkesan hanya mengumpulkan beberapa pendapat ulama-ulama lain mengenai ubudiyah ini, konsep ubudiyah yang ditawarkan Al-Qusyairi ini tidak terlihat jelas, ia setuju dari pendapat yang mana, itupun tidak jelas, oleh sebab itu makalah ini jadi terkesan seperti terjemahan untuk menjelaskan masing-masing pengertian ubudiah dari pendapat ulama yang ada di dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah, tetapi saya sudah berusaha memadukan dengan pendapat dari buku lainnya
Dari keseluruhan analisa tadi saya lebih cenderung mendukung pendapat salah satu ulama yang ada di dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah ini yaitu pendapat Abu Ali Ad-Daqaq yang mengatakan bahwa ubudiyah lebih sempurna daripada ibadah. Tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ubudah. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). Ubudiyah dimiliki oleh orang khawas. Ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas. Beliau juga mengatakan, “Ibadah dimiliki oleh orang yang memiliki ilmu yakin. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang mempunyai ainul yakin. Dan ubudah dimiliki oleh orang yang mempunyai haqul yakin”. Beliau juga mengatakan, ibadah dimiliki oleh orang yang mujahadah (bersungguh-sungguh). Ubudiyah dimiliki oleh orang yang Mukabadah (Yang terbebani dengan beratnya cobaan), Ubudah dimiliki oleh orang yang musyahadah (menyaksikan Tuhan).” Barang siapa yang tidak merendahkan dirinya maka dia adalah pemilik ibadah. Barang siapa yang tidak kikir pada hatinya maka dia adalah pemilik ubudiyah. Sedangkan barang siapa yang tidak kikir pada ruhnya maka ia adalah pemilik ubudah.[20]

VI. Kesimpulan
Ubudiyah dalam segi bahasa di ambil dari kata Ibadah, yaitu menunaikan perintah Alloh dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba Alloh, namun ubudiyah disini tidak hanya sekedar ibadah biasa, ibadah yang memerlukan rasa penghambaan, yang diinterpetasikan sebagai hidup dalam kesadaran sebagai hamba.[21] Jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang didalamnya terkandung seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, sabar dan sebagainya.
Makna ibadah adalah sebuah ketundukan yang total dan maksimal yang hanya dipersembahkan kepada Allah karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya. Ketundukan ini dibuktikan dengan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi.
 Menurut  Imam Ja’far ash-Shadiq, hakikat ubudiyah itu ada tiga macam
  1. Seorang tidak menganggap apa yang Alloh karuniakan kepadanya sebagai miliknya
  2. Seseorang tidak membuat suatu aturan (tadbir) bagi dirinya
  3. Seseorang harus menyandarka seluruh aktivitasnya sesuai dengan perintah dan larangan Alloh.
Ubudiyah memberikan terapi psikologi yang luar biasa, selain mengajarkan bagaimana tata cara beribadah yang benar-benar layaknya hamba beribadah pada tuhannya, ubudiyah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pengaturan gaya hidup seseorang, selain itu juga ubudiah membawa dampak sosial dan kesehatan
Tentu sebagai orang yang dikenai beban syariat tidak menginginkan jikalau ibadah, pengabdian, dan pengorbanan kita tidak bernilai di hadapan Allah. Telah sepakat para ulama Ahlus Sunnah bahwa sebuah ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat, yaitu “mengikhlaskan niat semata-mata untuk Allah” dan “mengikuti sunnah Rasulullah.”
Baik buruknya orang yang melakukan ibadah dinilai dari niatnya, resolusi serta tekad dan ketulusannya. Ada orang yang menunaikannya karena punya tujuan ingin masuk surga, lalu orang yang menunaikan kewajiban atau tanggung jawab agar selamat dari api neraka, orang yang menunaikannya karena cinta dan takdzim kepada Alloh dan orang yang menunaikannya sebagai syarat hubungan antara Alloh sebagai satu-satunya pencipta yang patut disembah dengan manusia sebagai ciptaannya. [22]
Yang pertama dari golongan tersebut disebut pedagang, yang kedua adalah budak dan yang ketiga adalah pecinta dan yang keempat adalah hamba yang taat atau beriman.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qusyairi An Naisaburi, Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin. 1998. Risalah Qusaiyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf. Jakarta : Pustaka Amani.
Armstrong, Amatullah. 1996. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung : Mizan.
Gulen, Fathullah. 2001. Kunci-Kunci Rahasia Sufi, ter. Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ibrahim, Rizal. 2003. Menghadirkan Hati : Panduan Menggapai Cinta Ilahi. Jogjakarta: Pustaka Sufi.
MZ, Labib. ?. Kuliah Ma’rifat. Surabaya : CV. Bintang Pelajar.
Rifai, Moh. 1978. Ilmu Fiqh Islam Lengkap. Semarang : CV. Toha Putra.



[1] Fathullah Gulen, Kunci Rahasia Sufi,  (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 95.
[2] Ibid.
[3] Al-Qur’an, 15 : 99.
[4] Deddy Kurniawam, Aplikasi Filosofi Ibadah Dalam Kehidupan, (My Theatre Of Dream, 18 Juni 2008 7:32 AM)
[5] Hadits Riwayat At-Turmuzi, disebutkan di nomor 2392 dalam “Az Zuhud”  bab “apa-apa yang datang didalam cinta di dalam Alloh”.
[6] Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An Naisabuuri, Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), 280
[7] Ibid,.
[8] Ibid,.
[9] Hadits Riwayat Imam Bukhori nomer 60 dan 61 “Al Jihad” bab “ peliharaan diri di dalam perang di jalan Alloh” juga didalam “ Ar Riqaq atau perbudakan”  bab “apa-apa yang tetap diantara fitnah harta”.
[10] Al-Qur’an, 17: 1.
[11] Al-Qur’an, 53 : 10.
[12] Jalaluddin Rakhmat, Kuliah-kuliah Tasawuf, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), 214-215.
[13] Al-Qur’an, 19 : 93.
[14] Ibid, 25 : 63.
[15] Ibid, 17 : 3.
[16] Ibid, 2 : 23.
[17] Ibid, 38 : 45.
[18] (Al Qaulul Mufid, 1/36)
[19] Amatullah Armstrong, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, (Bandung: Mizan, 1996), 302.
[20] Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An Naisabuuri, Risalah ………….., 280.
[21] Fathullah Gulen, Kunci Rahasia ,…………..95.
[22] Ibid,………………97.

Sabtu, 27 November 2010

Hati-hati Terhadap Dampak Pendewaan Rasio

Sabtu, 16 Oktober 2010

LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT BARAT KONTEMPORER


I. Latar Belakang

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.

Kita akan memfokuskan pembahasan dalam makalah ini mengenai filsafat kontemporer, banyak istilah dalam penyebutan babakan filsafat ini diantaranya filsafat kontemporer, filsafat pasca modern, filsafat posmo dll.

Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,

Tokoh-tokoh besar banyak bermunculan pada  abad XX ini seperti Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein dll. Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat  Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Nietzsche adalah tokoh pertama yang sudah menyatakan ketidak puasannya terhadap dominasi atau pendewaan rasio pada tahun 1880an[1] . jadi menurutnya tokoh the pertama filsafat dekontruksi adalah Nietzsche. Dengan alasan pada tahun 1880an Nietzsche menyatakan bahwa budaya Barat telah berada di ambang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio, kemudian baru tahun 1990 Capra juga mengatakan demikian.[2]

Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern.[3] Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa

batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.

Perlu diingat Filsafat Barat Kontemporer sangat Heterogen, karena profesionalisme yang semakin besar akibatnya muncul banyak filsuf yang ahli dibidang Matematika, Fisika, Psikologi, Sosiologi ataupun Ekonomi. Sehingga banyak pemikiran lama dihidupkan kembali seperti neothomisme, neokantianisme, neopositivisme dan sebagainya.

Dimasa ini Prancis, Inggris dan Jerman tetap merupakan Negara-negara yang paling depan dalam filsafat, sehingga pada umumnya orang membagi periodisasi Filsafat Barat Kontempoter menjadi dua, pertama filsafat kontinental meliputi Prancis dan Jerman, kedua Filsafat Anglosakson meliputi Inggris.

Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.

 

II. Filsafat Barat  Kontemporer

Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah. Filsafat menurut term : ingin tahu dengan mendalam (cinta pada kebijaksanaan) Menurut Ciceros (106-43 SM), penulis Romawi orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.

Menurut Prof, I.R. PUDJAWIJATNA menerangkan juga ”Filo” artinya cinta dalam arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya . ”Sofia artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.

Orang yang berfilsafat dinamakan filosof  dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang , ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam, Karakteristiknya berfikit filsafat yang pertama adalah menyeluruh, yang kedua mendasar.[4]Filsafat pada abad Yunani Klasik atau biasa disebut filsafat kuno senantiasa membahas tentang kosmologi yaitu terbentuknya alam semesta dari mana mereka berasal. selanjutnya filsafat abad pertengahan atau biasa disebut dengan skolastik  sangat berbeda dengan pemikiran sebelumnya hal ini disebabkan karena rumpun bangsa yang berfilsafat sangat berbeda, dalam filsafat abad pertengahan ini manusia mencoba mempersatukan secara harmonis apa yang diketahui dari akal dengan apa yang diketahuinya dari wahyu dengan demikianlah timbul sistem pandangan dunia kristen yang rangkap, dimana iman dan ilmu pengetahuan mendapatkan tempatnya masing-masing.[5] semakin lama doktrin kristen makin membelenggu kehidupan manusia di jaman itu sehingga semakin membatasi., selanjutnya muncullah abad modern yang diawali dengan munculnya gerakan Renaissance dimana orang lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia sendiri, Renaissance kemudian disusul oleh pencerahan yang menjadikan manusia merasa dewasa, membebaskan diri ri tradisi gereja sehingga mereka berusaha untuk menegakkan suatu pandangan dunia secara sistematis serta mengembangkannya secara metodis sehingga menjadi sautu bangunan pandangan dunia yang lengkap[6]

Karena terdapat berbagai macam filsafat yang kontruktif maka makin lama timbullah rasa jemu karena orang-orang yang setia kepada pemikiran yang membangun menampakkan gejala pembekuan sehingga terbentuklah aliran yang tiada pemikiran yang baru lagi yang dinamai aliran via antiqua (jalan kuna) selanjutnya dari situ timbul juga aliran baru yang berbeda sekali dengan sistem pemikiran dalam masa kejayaan skolastik dan berbeda juga dengan aliran via antiqua aliran ini dinamakan aliran via moderna (jalan modern) aliran ini menolak pemikiran metafisis yang konstruktip. Dan perhatiannya lebih diarahkan kepada cara manusia mengenal dan kepada segala ”yang ada”, ajaran yang mengenai pengenalan mengarah kepada nominalisme sekalipun perhatian terhadap teologia tidak kurang namun perhatiannya lebih diarahkan kepada hal-hal yang ilmiah secara positif bukan kepada persoalan-persoalan filsafati.[7]  dan tidak dapat disangkal bahwa para pemikir pada zaman modern ini berbeda-beda keadaannya. pemikiran filsafat mereka juga mengarah ke banyak jurusan akan tetapi semuanya itu mewujudkan suatu kesatuan. zaman ini menjadikan orang meraa telah mengetahui segala sesuatu secara menyeluruh dan sistematis.

Selanjutnya dalam perjalanan sejarah filsafat barat menunjukkan bahwa makin lama filsafat itu makin terpecah-pecah menjadi filsafat jerman, filsafat Prancis,  filsafat Inggris, Filsafat Amerika dan filsafat Rusia. mereka mengikuti jalannya sendiri-sendiri masing-masing membentuk kepribadian dengan caranya sendiri sekalipun demikian mereka tetap menampakkan suatu kesatuan. sebab bermacam-macam pemikiran yang dikemukakan paa bangsa itu sebenarnya hanya mewujudkan aspek yang bermacam-macam dari satu keadaban.[8]

Filsafat Kontemporer muncul diawali sikap ingin mendobrak teori Filsafat Modern yang menggunakan keuniversalitasan kebenara tunggal dan bebas nilai. Oleh sebab itu salah satu ciri yang terdapat dalam Filsafat Kontempoter ini mengagungkan nilai-nilai relatifitas dan mini narasi, dan lebih cenderung beragam dalam pemikiran.

Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi

 

III. Aliran-Aliran dalam Filsafat Barat Kontemporer

1. Pragmatisme

Di Amerika Serikat aliran Pragmatisme mendapat tempatnya yang tersendiri didalam pemikiran filsafat, William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan pragmatisme kepada dunia.[9]

Aliran Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.[10]

Aliran ini menganggap benar apa yang akibat-akibatnya bermanfa’at secara praktis. Jadi patokan dari pragmatisme adalah bagaimana dapat bermanfaat dalam kehidupan praktis.  Dan pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Kebenaran mistis pun dapat diterima asalkan bisa bermanfa’at secara praktis misalnya ada penyembuhan alternative yang menggunakan tenaga magis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat secara praktis.

Tokoh-tokohnya : William James, Jhon Dewey, F.C.S Schiller.

 

2. Vitalisme

Akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik di awal abad XX mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang cepat pula, sehingga menjadikan segala pemikiran diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi saja, baik jagat raya, maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri. Serta bekerja menurut hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu.[11]

Aliran Vitalisme memandang bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul dari reaksi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi. Dimana segala sesuatu dapat dianalisa secara matematis.

Tokoh-tokohnya: Henri Bergson

 

3. Fenomenologi

Kata Fenomenologi berasal dari Yunani fenomenon yang artinya sesuatu yang tampak,  terlihat karena bercahaya, dalam bahasa Indonesia disebut”gejala”.[12] Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan segala sesuatu selama hal itu tampak. Pelopor aliran ini adalah Edmund Husserl.

Tokoh-tokohnya: Edmund Husserl, Marx Secheler

 

4. Eksistensialisme

Kata Eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan) jadi eksistensialisme dapat diartikan manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu hal yang pasti yaitu bahwa dirinya ada.[13]

Eksistensialisme adalah aliran Filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi, Eksistensi sendiri merupakan cara berada manusia di dunia, dan cara ini berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lainnya. Benda mati atau hewan tidak sadar akan keberadaannya tetapi manusia menyadari keberadaannya, manusia sadar bahwa dirinya sedang bereksistensi oleh sebab itu segala sesuatu berarti selama menyangkut dengan manusia, dengan kata lain manusia memberikan arti pada segalanya, manusia menentukan perbuatannya sendiri, ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.

Dalam teori ini berpandangan bahwa manusia adalah eksistensinya mendahului esensinya (hakikat), dan sebaliknya benda-benda lain esensinya mendahului eksistensinya, sehingga manusia dapat menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri, hidupnya tidak ditentukan lebih dulu, sebaliknya benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.

Tokoh-tokohnya: Jean Paul Sartre, Gabriel Marcel

 

5. Filsafat Analitis

Aliran Filsafat Analitis ini pertama muncul di Inggris dan Amerika serikat sejak tahun 1950, Filsafat analitis sering juga disebut filsafat bahasa, filsafat ini merupakan reaksi dari idealisme, khususnya neohegelianisme di inggris. Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan konsep-konsep.

Tokoh-Tokohnya: Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, John Langsaw Austin.

 

6. Strukturalisme

Strukturalisme muncul diprancis pada tahun 1960an, dan dikenal juga dalam linguistic, psiatri dan sosiologi, strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap, maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut.

Tokoh-tokohnya: Levi Strauss, Jacques Lacan, Michel Foucault

 

7. Postmodernisme

Aliran Post Modernisme ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya, pengertian postmodern bukan sesuatu yang baru dalam filsafat Lyotard menjadi orang pertama yang mengintroduksikan istilah ini ke dalam filsafat. Tokoh-tokohnya: Jean Francois Lyotard.

 

IV. Kesimpulan

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan filsafat modern dan filsafat kontemporer. Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern.

Filsafat barat kontemporer ini muncul pada abad XX sebagai kritik dari filsafat modern, hal ini dapat terungkap dalam  istilah dekonstruksi, yang didekonstruksi oleh filsafat kontemporer ini adalah rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat,

Rasionalisme Filsafat modern perlu di dekonstruksi menurut Ahmad Tafsir karena ia Filsafat yang keliru dan  juga keliru cara penggunaannya, akibatnya budaya Barat menjadi hancur. Renaisans yang secara berlebihan mendewakan rasio manusia. Mencerminkan kelemahan manusia modern. Akibatnya timbullah kecenderungan untuk menyisihkan seuruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup, sehingga manusia modern yang mewarisi sikap positivistic cenderung menolak keterkaitan antara substansi jasmani dan rohani manusia, mereka juga menolak adanya hari akhirat, akibatnya manusia terasing tanpa

batas, kehilangan orientasi dan sebagai konsekuensinya lahirlah trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.

Aliran-aliran yang muncul pada abad ini adalah Pragmatisme, vitalisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Filsafat Analitis (filsafat bahasa), Strukturalisme dan Postmodernisme.

Ciri filsafat Kontemporer adalah sebagai reaksi dari berkembangnya filsafat modern yang semakin melenceng, pemikiran Kontemporer ini berusaha mengkritik Logosentrisme, rasionalisme filsafat modern yang berusaha menjadika rasio sebagai instrumen utama, perkembangan Filsafat kontemporer berada dalam dua jalur yakni filsafat Holistic dan filsafat dekonstruksi.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Bertens, K. 2001. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Bertens, K. 2001. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwidjono, Harun. 1998. Sari Sejarah Filsafat Barat  1. Yogyakarta : Kanisius.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.



[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 257.

[2] Ibid, 258.

[3] Ibid,.

[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama (Surabaya:  Bina ilmu, 1979) , 79

[5] Harun Hadiwidjono, Sari Sejarah Filsafat Barat  1. (Yogyakarta : Kanisius, 1998), 10.

[6] Ibid,.

[7]  Ibid, 118.

[8]  Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 7.

[9]  Ibid, 130.

[10] Ibid, 131.

[11] Ibid, 135.

[12] Ibid, 140.

[13] Ibid, 148.

Rabu, 16 Juni 2010

Mutiara Jiwa

Sabtu, 30 Januari 2010

MEMBEDAH TEORI ATEISME


I. Latar Belakang
Jika kita mendengar kata atheis maka kesan pertama yang mungkin muncul di benak orang adalah tidak bertuhan, komunis ataupun tidak bermoral. Sangat mengerikan jika kita bayangkan kejadian G30SPKI yang telah membantai jendral besar Indonesia dan pelakunya di dasari oleh ideology Komunis sangat dekat dengan ateis. Biasanya kalau kita membahas tentang moral pasti dihubung-hubungkan dengan Tuhan atau theis, karena tuhan adalah sumber dari aturan-aturan dan tata cara berlaku baik, kalau percaya dengan tuhan maka harus mentaati aturanNya dan pasti tingkah lakunya selalu baik. Benarkah penyataan itu berlaku sampai sekarang ? kelihatannya pernyataan itu tidak selamanya benar kalau kita mengamati fenomena sekarang ini, banyak orang yang bertuhan tetapi kelakuannya lebih parah dari orang ateis, orang yang sangat mengerti agama malah terjebak kasus kriminalitas, korupsi dan lain sebagainya. Negara yang sangat tinggi tingkat keberagamaannya diimbangi juga semakin tingginya angka kejahatan, pembunuhan, pelanggaran hukum, pencurian, pelanggaran moral dan lain-lain. Jika kita lakukan surfei pasti didapati hasil yang menyatakan bahwa pelaku pelanggaran adalah mayoritas beragama. Lalu bagaimana dengan pernyataan di atas, apakah ateis masih selalu diidentikkan dengan perbuatan amoral, kelihatannya aturan agama semakin dibuat gampang, apakah ada kesalahan dari aturan tuhan ataukah manusianya yang salah.
Selain masalah itu kita juga sering salah menyebut orang ateis, ternyata ateis itu bukan hanya sebutan bagi orang-orang yang tidak percaya adanya tuhan saja, seorang yang ateis juga bukan berarti orang yang tidak punya agama justru sekarang ada agama secara terbuka yang menyatakan dirinya ateis misalnya yahudi ateis atau yahudi humanis dan Kristen ateis dan keduanya sangat menarik banyak orang untuk memeluknya. ateis juga bermacam-macam, agama Buddha Theravada tidak memiliki kepercayaan terhadap tuhan, dan agama tersebut juga disebut sebagai ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis. bahkan umat hindu juga menyebutkan dirinya sebagai ateis, sebelum menggolongkan seseorang menjadi ateis, sebaiknya kita tengok asal usul penggunaan sebutan itu, jaman dahulu pada akhir abad ke-18 di Eropa Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri", utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis. Pada abad ke-20, globalisasi memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)". Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.
Ateisme juga sangat berkaitan erat dengan materialisme, sama-sama tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti hantu, setan malaikat dan hal ghaib. Hidup modern yang serba rasional dan menganut paham materialisme pasti tidak percaya hal yang tidak terlihat terasa oleh indra, maka tidak percaya juga dengan keberadaan tuhan, anehnya justru Negara yang tinggi angka ateismenya justru lebih modern, menurut analisa para ahli itu disebabkan karena doktrin agama dapat menyebabkan orang menjadi tidak ingin berusaha dan selalu pasif karena mengharapkan pertolongan Tuhan, dan ateis berusaha mengubah dengan segala kemampuannya tanpa campurtangan tuhan, karena ia menganggap tuhan sudah tidak ada. Maka dengan ini kita berusaha memecahkan suatu problem yang ada tentang ateis termasuk juga hubungannya dengan matrerialis.

II. Ateisme
Dari segi bahasa ateisme berasal dari bahasa Yunani kuno, kata atheos (ἄθεος, berasal dari awalan ἀ- + θεός "tuhan") berarti "tak bertuhan". Kata ini mulai digunakan untuk penolakan tuhan yang disengajakan dan banyak digunakan pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa". Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan atheos sebagai "ateistik". Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ἀθεότης (atheotēs ), yang berarti "ateisme". Cicero mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam bahasa Latin atheos. Istilah ini sering digunakan pada perdebatan antara umat Kristen awal dengan para pengikut agama Yunani kuno (Helenis), yang mana masing-masing pihak menyebut satu sama lainnya sebagai ateis secara peyoratif. Penulis Perancis abad ke-18, Baron d'Holbach adalah salah seorang pertama yang menyebut ateis untuk ketidak percayaan pada tuhan monoistik
Menurut istilah ateis adalah tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.
Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.
Dalam versi islam awal munculnya ateis adalah perdebatan dengan kaum zindiq dan mu’tazilah.

III. Klasifikasi Ateisme
Smith menciptakan istilah ateisme implisit untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ateisme eksplisit untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.
Para filsuf seperti Antony Flew, Michael Martin, dan William L. Rowe membedakan antara ateisme kuat (positif) dengan ateisme lemah (negatif). Ateisme kuat adalah penegasan bahwa tuhan tidak ada, sedangkan ateisme lemah meliputi seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya. Menurut kategorisasi ini, siapapun yang tidak mempercayai agama atau tuhan dapatlah ateis yang lemah ataupun kuat. Istilah lemah dan kuat ini merupakan istilah baru, namun istilah yang setara seperti ateisme negatif dan positif telah digunakan dalam berbagai literatur-literatur filosofi dan apologetika Katolik (dalam artian yang sedikit berbeda). Menggunakan batasan ateisme ini, kebanyakan agnostik adalah ateis lemah.

IV. Dasar Pemikiran
A. Ateisme Praktis
Dalam ateisme praktis atau pragmatis, juga sering disebut apateisme, individu hidup tanpa tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan paranormal. Menurut pandangan ini, keberadaan tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak berguna, tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Tuhan hanya tidak masuk dalam kehidupan manusia, Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya dalam komunitas ilmiah adalah naturalisme metodologis, yaitu pengambilan asumsi naturalisme filosofis dalam metode ilmiah yang tidak diucapkan dengan ataupun tanpa secara penuh menerima atau mempercayainya.
Ateisme praktis dapat berupa Ketiadaan efek motivasi religius, dapat diartikan kepercayaan pada tuhan justru tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya.
Pengesampingan masalah tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis. Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan tuhan dan agama dan Ketidaktahuan akan konsep tuhan dan dewa.

B. Ateisme Teoritis
Ateisme teoritis secara eksplisit memberikan argumen menentang keberadaan tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen teistik mengenai keberadaan tuhan, seperti misalnya argumen dari rancangan dan taruhan Pascal. Terdapat berbagai alasan-alasan teoritis untuk menolak keberadaan tuhan, utamanya secara ontologis, gnoseologis, dan epistemologis. Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis.

1. Argumen epistemologis dan ontologis
Ateisme epistemologis berargumen bahwa orang tidak dapat mengetahui Tuhan ataupun menentukan keberadaan Tuhan. Dasar epistemologis ateisme adalah agnostisisme. Pemikiran agnostisisme yaitu tuhan dianggap berada diluar cakupan filsafat, hal adanya tuhan dianggap tidak dapat diketahui secara filosofis. Dalam filosofi imanensi, ketuhanan tidak dapat dipisahkan dari dunia itu sendiri, termasuk pula pikiran seseorang, dan kesadaran tiap-tiap orang terkunci pada subjek. Menurut bentuk agnostisisme ini, keterbatasan pada perspektif ini menghalangi kesimpulan objektif apapun mengenai kepercayaan pada tuhan dan keberadaannya. Agnostisisme rasionalistik Kant dan Pencerahan hanya menerima ilmu yang dideduksi dari rasionalitas manusia. Bentuk ateisme ini memiliki posisi bahwa tuhan tidak dapat dilihat sebagai suatu materi secara prinsipnya, sehingga tidak dapat diketahui apakah ia ada atau tidak. Skeptisisme, yang didasarkan pada pemikiran Hume, menegaskan bahwa kepastian akan segala sesuatunya adalah tidak mungkin, sehingga seseorang tidak akan pernah mengetahui keberadaan tentang Tuhan. Alokasi agnostisisme terhadap ateisme adalah dipertentangkan, ia juga dapat dianggap sebagai pandangan dunia dasar yang independen.
Argumen lainnya yang mendukung ateisme yang dapat diklasifikasikan sebagai epistemologis ataupun ontologis meliputi positivisme logis dan agnostisisme, yang menegaskan ketidakberartian ataupun ketidakpahaman terhadap istilah-istilah dasar seperti "Tuhan" dan pernyataan seperti "Tuhan adalah mahakuasa." Nonkognitivisme teologis memiliki posisi bahwa pernyataan "Tuhan ada" bukanlah suatu dalil, namun adalah omong kosong ataupun secara kognitif tidak berarti.

2. Argumen metafisika
Ateisme metafisik didasarkan pada monisme metafisika, yakni pandangan bahwa realitas adalah homogen dan tidak dapat dibagi. Ateis metafisik absolut termasuk ke dalam beberapa bentuk fisikalisme, sehingga secara eksplisit menolak keberadaan makhluk-makhluk halus. Ateis metafisik relatif menolak secara implisit konsep-konsep ketuhanan tertentu didasarkan pada ketidakkongruenan antara filosofi dasar mereka dengan sifat-sifat yang biasanya ditujukan kepada tuhan, misalnya transendensi, sifat-sifat personal, dan keesaan tuhan. Contoh-contoh ateisme metafisik relatif meliputi panteisme, panenteisme, dan deisme.
Epikouros sering disebut sebagai orang yang pertama menguraikan secara terperinci masalah kejahatan. David Hume dalam bukunya Dialogues concerning Natural Religion (1779) mengutip argumen Epikouros dalam bentuk sederet pertanyaan" Apakah Tuhan berniat mencegah kejahatan, namun tidak dapat? maka apakah ia impoten. Apakah ia dapat, namun tidak berniat? Maka apakah ia berhati dengki. Apakah ia dapat dan berniat? maka darimanakah kejahatan?"

3. Argumen psikologis, sosiologis, dan ekonomi
Para filsuf seperti Ludwig Feuerbach dan Sigmund Freud berargumen bahwa Tuhan dan kepercayaan keagamaan lainnya hanyalah ciptaan manusia, yang diciptakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan psikologis dan emosi manusia. Hal ini juga merupakan pandangan banyak Buddhis.
Pemikiran Karl Marx dan Friedrich Engels juga dipengaruhi oleh karya Feuerbach, mereka berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan dan agama adalah fungsi sosial, yang digunakan oleh penguasa untuk menekan kelas pekerja. Menurut Mikhail Bakunin, "pemikiran akan Tuhan mengimplikasikan turunnya derajat akal manusia dan keadilan, ia merupakan negasi kebebasan manusia yang paling tegas, dan seperlunya akan berakhir pada perbudakan umat manusia, dalam teori dan prakteknya." Ia membalikkan aforisme Voltaire yang terkenal yang berbunyi jika "Tuhan tidak ada, maka adalah perlu untuk menciptakanNya", dengan menulis: "Jika Tuhan benar-benar ada, maka perlu dihapus."

4. Argumen logis dan berdasarkan bukti
Ateisme logis memiliki posisi bahwa berbagai konsep ketuhanan, seperti tuhan personal dalam kekristenan, dianggap secara logis tidak konsisten. Para ateis ini memberikan argumen deduktif yang menentang keberadaan Tuhan, yang menegaskan ketidakcocokan antara sifat-sifat tertentu Tuhan, misalnya kesempurnaan, status pencipta, kekekalan, kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahabelaskasihan, transendensi, kemahaadilan, dan kemahapengampunan Tuhan.
Ateis teodisi percaya bahwa dunia ini tidak dapat dicocokkan dengan sifat-sifat yang terdapat pada Tuhan dan dewa-dewi sebagaimana yang diberikan oleh para teolog. Mereka berargumen bahwa kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kemahabelaskasihan Tuhan tidaklah cocok dengan dunia yang penuh dengan kejahatan dan penderitaan, dan di mana welas kasih tuhan/dewa adalah tidak dapat dilihat oleh banyak orang. Argumen yang sama juga diberikan oleh Siddhartha Gautama, sebagai pendiri Agama Buddha.

5. Argumen antroposentris
Ateisme aksiologis atau konstruktif menolak keberadaan tuhan, dan sebaliknya menerima keberadaan "kemutlakan yang lebih tinggi" seperti kemanusiaan. Ateisme dalam bentuk ini menganggap kemanusiaan sebagai sumber mutlak etika dan nilai-nilai, dan mengijinkan individu untuk menyelesaikan permasalahan moral tanpa bergantung pada Tuhan. Marx, Nietzsche, Freud, dan Sartre semuanya menggunakan argumen ini untuk menyebarkan pesar-pesan kebebasan, Übermensch, dan kebahagiaan tanpa kekangan.
Argumen Blaise Pascal merupakan salah satu kritik yang paling umum terhadap ateisme dia memaparkan bahwa menolak keberadaan Tuhan akan membawa pada relativisme moral, menyebabkan seseorang tidak bermoral ataupun tidak memiliki dasar etika, atau membuat hidup tidak berarti dan menyedihkan.

V. Hubungan Ateis dengan Moral
Kalau kita melihat kenyataan sekarang ini banyak yang memfonis orang ateis pasti identik dengan orang yang tidak bermoral, sebenarnya para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari universalisme moral humanisme, yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, nilai moral universal bisa didapat dimana saja tidak harus diperoleh dalam doktrin dan aturan agama, bahkan didalam mata hati setiap orang pasti mengatakan bahwa yang tidak baik tidak boleh dilakukan .dipungkiri atau tidak itu memang dapat dirasakan. Menurut Newman dalam suara hati kita menyadari bahwa kita berkewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar dan menolak yang tidak baik dan tidak benar. Jadi tidak selamanya moralitas memerlukan seorang pencipta hukum sama halnya hukum itu sendiri.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak ada tidak berarti juga berpikir bahwa manusia bebas melakukan apapun. Ateisme hanyalah suatu keadaan sebatas ”tidak percaya bahwa Tuhan ada”, tidak lebih dari itu. Tidak ada jaminan bahwa seorang ateis akan berbuat semaunya, seperti juga tidak ada jaminan seorang beragama dan percaya pada Tuhan akan berbuat baik.
Seorang ateis banyak juga terbukti menjadi seorang humanis. Tetapi ada juga mereka yang menjadi sadis seperti Josef Stalin yang terbukti membunuh 30 juta jiwa rakyatnya sendiri (walaupun perlu ditekankan bahwa yang kekejaman yang dilakukan Stalin bukan semata karena ketidak percayaannya kepada tuhan namun karena ideologi komunisme yang ia selewengkan), maupun menjadi seperti Voltaire yang memperjuangkan kebebasan rakyat jelata Prancis dari kungkungan penguasa pemerintahan dan penguasa agama yang absolut.
Ateisme sama sekali berbeda dengan Komunisme. Komunisme pada umumnya ateis, tetapi ateis tidak berarti komunis. Komunisme adalah sebuah sistem pemikiran yang dapat dikembangkan menjadi ideologi dan bahkan sistem pemerintahan, sementara ateisme merupakan sistem ke(tidak)percayaan begitu juga Agnostisisme berbeda dengan ateisme. Kata-kata yang dipopulerkan oleh T.H Huxley ini artinya tidak mengetahui apakah Tuhan ada atau tidak. Sementara ateisme tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Memang hampir mirip tetapi sekali lagi ditegaskan bahwa keduanya tetap berbeda.
Baggini berargumen bahwa perilaku etis yang dilakukan hanya karena mandat Yang Di atas bukanlah perlaku etis yang sebenarnya, melainkan hanyalah kepatuhan buta yang kurang subyektif dan ateisme merupakan dasar etika yang lebih superior, dan mengklaim bahwa dasar moral di luar perintah agama adalah diperlukan untuk mengevaluasi moralitas perintah itu sendiri. Sebagai contoh, dalam agama A terdapat perintah "umat agama A haruslah mencuri" kita pasti mengetahui bahwa mencuri adalah amoral jika suatu agama yang memerintahkannya maka umatnya harus mentaati sehingga perbuatan tersebut menurut pandangan umatnya itu baik, disinilah letak keuntungan ateis dapat lebih melakukan evaluasi tersebut daripada umat beragama yang mematuhi perintah agamanya sendiri.

VI. Kaitan antara Ateisme dengan Materialisme
Materialisme karakteristiknya adalah materi itu absolut, materi tidak terbatas dan segala sesuatu terdiri dari materi, jadi kalau materi dijadikan paham maka segala sesuatu didasari dengan kenyataan terlihat oleh mata dan ada wujudnya. Masalah tuhan, malaikat, jin merupakan hal yang ghaib tidak ada wujudnya dan tidak tampak. Jadi agama yang mempunyai keyakinan terhadap benda-benda tidak kasat mata tidaklah sesuai dengan paham materialisme, orang yang mempercayai paham tersebut tidak percaya adanya agama yang mengimani sesuatu yang nonmaterial jadi dapat dikatakan masuk kedalam ateisme, oleh sebab itu materialisme selalu dihubungkan dengan ateisme. Materialisme dapat dikatakan seperti ateisme karena bentuk dan substansinya sama-sama tidak mengakui adanya tuhan.
Terdapat beberapa dasar ideologi tentang paham materialisme ini, diantaranya yaitu tidak meyakini adanya alam ghaib, menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu, memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam meletakkan hukum, menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.
Negara-negara maju kebanyakan pemikirannya didominasi oleh paham ini, masyarakatnya mayoritas mempunyai pemikiran tidak mempercayai hal yang immaterial karena seperti tuhan, dewa penyelamat, malaikat menurut mereka merupakan sesuatu hayalan yang hanya bisa membuat orang manja dan berharap-harap akan dapat pertolongan yang tidak mungkin, jika orang yang berpaham materialisme akan berusaha untuk merubah dengan segala tabiat kemanusiaannya berdasarkan hal yang rasional dan berwujud. Dan nyatanya kehidupan yang dengan tanda kutip sekular ini banyak berhasil dalam modernisasi dan kemajuan. Jadi tidak selamanya ateis dan materialistis merugikan dalam kenyataan pernyataan itu terbukti banyak benarnya.

VII. Fenomena ateis pada saat ini
Ateis adalah tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan Bertambah maju suatu negara ataupun daerah semakin maju pula pemikiran masyarakatnya sehingga serba rasional dan materialistis, pemikirannya menjurus juga pada sekularistik dan ateisme, kenyataannya semakin maju suatu negara penduduknya yang ateis juga bertambah, dapat diamati bahwa semakin sekular pemikirannya kemungkinan besar mudah masuk ke ateis. dapat kita bayangkan sekarang ini jika semuanya negara maju maka pasti ateis menjadi sangat besar dan bahkan prosentasenya mengimbangi yang jumlah orang beragama. Dan untuk hal itu apakah perlu dibuatkan agama ateis? Tapi jangan salah semua negara belum majupun agama ateis sudah ada misalnya seperti yang sudah saya sebutkan diatas diantaranya yaitu yahudi ateis atau yahudi humanis dan kristen ateis. Dapat diperkirakan juga jika seluruh belahan dunia ini sama-sama berfikiran rasional maka banyak juga agama ateis baru yang akan muncul. Lalu letak tuhan akan dipertanyakan dan buku tuhan telah mati kembali diterbitkan.
Menurut pengalaman sahabat-sahabat yang mengamati ateis di luar negeri kebanyakan orang yang memeluk ateis jika diadakan survei tidak mau menyebutkan dirinya sebagai ateis hal itu dikarenakan adanya diskriminasi dan stigma sosial bahkan penganiayaan, ternyata kedudukan ateis masih dinomorduakan, dengan kata lain ateisme belum diakui oleh dunia. Orang yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai ateis akan dikucilkan oleh masyarakat di sekitarnya, oelh sebab itu mereka tetap menyatakan memeluk salah satu agama resmi walaupun sebenarnya tidak punya keyakinan terhadap tuhan agama manapun, kalau di indonesia istilah akrabnya Agama KTP.
Kalau kita menganalisa bahwa ateis ternyata tidak selamanya murni dari keyakinan pribadi, peran serta lingkungan luar juga dapat mempengaruhi orang itu menjadi ateis atau tidak misalnya orang yang hidup dari latar belakang keluarga yang keras juga lebih cenderung percaya pada tuhan daripada orang yang merasa dirinya tumbuh di lingkungan tanpa aturan yang keras itu lebih cenderung ke arah ateis. Selain itu tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi sehingga timbul pernyataan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan.
Survei November-Desember 2006 yang dilakukan di Amerika Serikat dan lima negara Eropa, dan dipublikasi di Financial Times menunjukkan bahwa orang Amerika (73%) cenderung lebih percaya kepada tuhan/dewa atau makhluk tertinggi dalam bentuk apapun daripada orang Eropa. Di antara orang dewasa Eropa yang disurvei, orang Italia adalah yang paling banyak percaya (62%) dan orang Perancis adalah yang paling rendah (27%). Di Perancis, 32% mengaku dirinya sebagai ateis, dan 32% lainnya mengaku sebagai agnostik. Dari sini dapat dilihat bahwa keberadaan ateisme tidak bisa diabaikan.

VIII. Kesimpulan
Materialisme karakteristiknya adalah materi itu absolut, materi tidak terbatas dan segala sesuatu terdiri dari materi, jadi kalau materi dijadikan paham maka segala sesuatu didasari dengan kenyataan terlihat oleh mata dan ada wujudnya. sebenarnya para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari universalisme moral humanisme, yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, nilai moral universal bisa didapat dimana saja tidak harus diperoleh dalam doktrin dan aturan agama, Masalah tuhan, malaikat, jin merupakan hal yang ghaib tidak ada wujudnya dan tidak tampak. Jadi agama yang mempunyai keyakinan terhadap benda-benda tidak kasat mata tidaklah sesuai dengan paham materialisme, orang yang mempercayai paham tersebut tidak percaya adanya agama yang mengimani sesuatu yang nonmaterial jadi dapat dikatakan masuk kedalam ateisme, oleh sebab itu materialisme selalu dihubungkan dengan ateisme. Materialisme dapat dikatakan seperti ateisme karena bentuk dan substansinya sama-sama tidak mengakui adanya tuhan.
Bertambah maju suatu negara ataupun daerah semakin maju pula pemikiran masyarakatnya sehingga serba rasional dan materialistis, pemikirannya menjurus juga pada sekularistik dan ateisme, kenyataannya semakin maju suatu negara penduduknya yang ateis juga bertambah, dapat diamati bahwa semakin sekular pemikirannya kemungkinan besar mudah masuk ke ateis.
Kalau kita menganalisa bahwa ateis ternyata tidak selamanya murni dari keyakinan pribadi, peran serta lingkungan luar juga dapat mempengaruhi orang itu menjadi ateis atau tidak misalnya orang yang hidup dari latar belakang keluarga yang keras juga lebih cenderung percaya pada tuhan daripada orang yang merasa dirinya tumbuh di lingkungan tanpa aturan yang keras itu lebih cenderung ke arah ateis. Selain itu tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi sehingga timbul pernyataan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan semakin mengertinya orang itu semakin kuat kemungkinannya untuk meremehkan suatu hal khususnya agama.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Jais, Hartono. 2006. Ada Kemurtadan di Iain. Jakarta : Pustaka al Kautsar.
Badawi, Abdurrahman. 2003. Sejarah ateis Islam penyelewengan, penyimpangan, kemapanan Ter. Khoiron Nahdiyyin. Yogyakarta : LKiS.
Leahy, Louis. 1997. Aliran-aliran ateisme tinjauan kritis. Yogyakarta : kanisius.
Leahy, Louis. 1997. Aliran-aliran besar ateisme tinjauan kritis. Jakarta : PT. PBK. Gunung Mulia.
Magnis, Franz. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta : Kanisius.